AS Bantah Laporan Korban Jiwa di Kapal Induk USS Abraham Lincoln

Share

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) membantah laporan media Iran terkait bentrokan hebat di kapal induk USS Abraham Lincoln yang diklaim menewaskan tujuh personel Angkatan Laut AS, dilansir dari Detikcom.

Pernyataan resmi yang dirilis militer AS menegaskan bahwa situasi di atas kapal tetap terkendali meskipun telah berlayar selama lebih dari sembilan bulan di kawasan Timur Tengah.

Laporan mengenai insiden bentrokan fisik tersebut sebelumnya dipublikasikan oleh kantor berita Tasnim dari Iran pada Rabu (12/6/2026), yang menyebutkan adanya kericuhan saat penasihat CENTCOM mendatangi kapal untuk merespons keluhan awak.

Pihak militer AS memberikan konfirmasi resmi melalui akun media sosial X pada Jumat (14/8) untuk menepis seluruh tuduhan yang beredar mengenai korban jiwa maupun gangguan mental para personel.

"Selama 48 jam terakhir, berbagai media telah melaporkan beberapa klaim palsu terkait penempatan USS Abraham Lincoln (CVN 72) ke Timur Tengah. Satu laporan menuduh tujuh pelaut tewas dalam perkelahian di atas kapal induk dan laporan lain baru-baru ini, menyebutkan adanya peningkatan niat bunuh diri. Laporan-laporan ini SALAH," tulis CENTCOM.

Pihak CENTCOM menekankan tingkat kesiapan tempur dan ketahanan para prajurit di kapal induk bertenaga nuklir tersebut selama menjalankan operasi jarak jauh.

"USS Abraham Lincoln mempertahankan salah satu tingkat perpanjangan masa tugas awak kapal tertinggi (84,4%) di antara semua kapal induk di Angkatan Laut AS. Para pelaut dan marinir dari Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln tetap tangguh dan gigih setelah lebih dari 260 hari di laut, 10.000 penerbangan pesawat, dan 1,5 juta pon amunisi yang digunakan," imbuh militer AS tersebut.

Militer AS mengonfirmasi tidak ada anggota yang meninggal, namun membenarkan insiden satu prajurit yang sempat jatuh ke laut pada awal Agustus.

"Tidak ada anggota militer di atas kapal induk yang meninggal, dan satu pelaut yang jatuh ke laut pada 3 Agustus dengan cepat dan aman telah diselamatkan. Pemberitaan yang salah tentang penempatan bersejarah Abraham Lincoln merugikan para prajurit kita dan orang-orang yang mereka cintai," imbuh CENTCOM.

Isu internal di kapal induk ini memicu reaksi politik di dalam negeri AS, termasuk desakan penanganan kepemimpinan di Kementerian Pertahanan.

Pemimpin Minoritas Senat Amerika Serikat Chuck Schumer mendesak tindakan tegas terhadap pimpinan militer AS di tengah sorotan publik.

"Ketika Pete Hegseth dinominasikan, semua orang tahu dia sama sekali tidak kompeten," kata Schumer dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, dilansir Anadolu Agency, Jumat (14/8/2026).

Politisi Partai Demokrat tersebut menilai kondisi para prajurit di lapangan memerlukan langkah cepat dari pemerintah pusat.

"Sekarang para pelaut pemberani kita membayar harganya dengan cara yang mengerikan dan tak terbayangkan. Pete Hegseth harus segera dipecat," imbuh senator dari Partai Demokrat itu.

Guna menjaga stabilitas keamanan di kawasan Laut Arab, militer AS mempublikasikan pengerahkan kapal induk tambahan USS George HW Bush pada Minggu (16/8/2026).

"Pesawat Angkatan Laut AS lepas landas dari geladak penerbangan USS George H.W. Bush (CVN 77) saat kapal tersebut berlayar di Laut Arab untuk mendukung keamanan di Timur Tengah," tulis akun media sosial CENTCOM.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan tanggapan terkait durasi penugasan kapal induk yang telah berada di laut sejak November 2025 tersebut.

Saat ditanya oleh wartawan apakah keluarga para personel merasa khawatir dengan situasi di kapal induk Abraham Lincoln, Trump menjawab, "Tidak, mereka tidak khawatir."

Presiden AS menampik anggapan bahwa masa pengerahan armada tempur di kawasan tersebut sudah melewati batas wajar.

"Tidak, tidak, tidak, justru belum cukup lama," ujarnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author