Konflik AS-Iran Tutup Selat Hormuz dan Pangkas Pasokan Minyak Dunia
Penutupan Selat Hormuz menyebabkannya rekor baru krisis energi global dengan hilangnya pasokan minyak hingga 10,1 juta barel per hari pada Maret 2026. Gangguan akibat memanasnya konflik militer dan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran ini melampaui dampak Revolusi Iran 1978.
Data International Energy Agency yang dikutip dalam World Bank Commodity Markets Outlook mencatat penurunan pasokan tersebut mencapai hampir 80 persen lebih besar dibandingkan krisis 1978. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu biasanya menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Lalu lintas kapal tanker di selat tersebut hampir terhenti total akibat hambatan pelayaran dan ancaman keamanan. Analisis Kpler menunjukkan hanya dua kapal yang melintas pada pertengahan Agustus 2026, jauh di bawah rata-rata normal 130 kapal per hari.
Eskalasi ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat mengancam mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu pascabuntu perundingan gencatan senjata. Kebijakan ini mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent menjadi US$87,16 per barel dan West Texas Intermediate menjadi US$81,29 per barel.
Pemerintah AS menyatakan bakal meluncurkan sanksi ekonomi tambahan pekan depan guna meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Di sisi lain, harga rata-rata bensin di AS melambung hingga 4,08 dolar AS per galon atau naik 29 persen secara tahunan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan kesiapan pemerintahnya dalam menerapkan sanksi ekonomi lanjutan terhadap Teheran.
"Kita tunggu pengumuman lebih lanjut pekan depan karena kami akan menerapkan langkah-langkah seperti yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara," kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancara.
Pernyataan tersebut disampaikan seiring dengan penguatan isolasi finansial terhadap jaringan perdagangan Iran.
Presiden AS Donald Trump meminta warga Amerika untuk bersiap menghadapi lonjakan harga bahan bakar selama proses militer dan politik berlangsung. Trump menyebut biaya bensin yang lebih mahal merupakan harga yang pantas demi menghentikan program nuklir Iran.
"Setelah kita selesai mengalahkan Iran … segera saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," ujar Donald Trump, Presiden AS di hadapan pendukungnya di Garden City, New York.
Klaim penguasaan jalur laut strategis tersebut langsung direspons secara tegas oleh pihak militer dan diplomatik Iran.
Kepala unit paramiliter Basij Iran Hossein Taeb menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan dan kendali penuh Republik Islam Iran, seperti dilaporkan kantor berita Fars.
Penegasan tersebut didukung oleh pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Iran terkait syarat pemulihan jalur navigasi internasional.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyampaikan di platform X bahwa selama AS tidak menerima realitas kekalahan dan masih berkhayal, Iran akan terus memberlakukan blokade.
Pemerintah Iran menekankan bahwa lalu lintas kapal tidak akan dibuka sebelum tuntutan mereka dipenuhi oleh pihak Washington.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengungkapkan bahwa negaranya belum memutuskan untuk kembali berdialog dengan Washington, sebagaimana dilaporkan Shahrara News.
Kondisi keamanan di kawasan semakin memburuk menyusul serangan rudal Houthi ke pelabuhan Mocha di Laut Merah yang menewaskan empat warga sipil, serta insiden serangan proyektil terhadap tiga kapal milik Abu Dhabi National Oil Company di sekitar Selat Hormuz.