Gempa Magnitudo 7,7 Guncang NTT dan M7,4 Hantam Kolombia
Rangkaian gempa bumi berkekuatan besar melanda Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/2026) dan Kolombia, memicu kerusakan parah, menewaskan ratusan jiwa, serta memobilisasi tim penyelamat dalam masa kritis evakuasi.
Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT menjadi salah satu guncangan terbesar di dunia sepanjang 2026 menurut data United States Geological Survey. BMKG mencatat pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.
Data sementara BNPB mencatat 47 orang meninggal dunia dan sekitar 2.000 warga mengungsi di Kabupaten Nagekeo. Dampak kerusakan mencakup 157 rumah rusak berat, 41 rusak sedang, dan 148 rusak ringan, serta melumpuhkan puluhan fasilitas umum, pelabuhan, dan terminal bandara.
BMKG merekam 37 gempa susulan berkekuatan magnitudo 3,7 hingga 6,2 di kawasan Flores. Peringatan dini tsunami sempat dikeluarkan setelah kenaikan muka air laut terdeteksi hingga satu meter di sejumlah wilayah pesisir sebelum akhirnya dicabut.
Sementara itu di Kolombia, guncangan gempa magnitudo 7,4 menghancurkan wilayah barat negara tersebut, termasuk Kota Cali dan Pereira. Unit Nasional Manajemen Risiko Bencana Kolombia melaporkan jumlah korban tewas mencapai 294 orang dan 3.935 warga mengalami luka-luka.
Dampak bencana di Kolombia merusak hampir 13.000 rumah dan memicu lebih dari 100 gempa susulan akibat aktivitas di zona subduksi Lempeng Nazca dan Amerika Selatan.
Kondisi darurat tersebut mendorong Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella melobi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menangguhkan tarif impor bagi produk-produk Kolombia.
"Saya memintanya untuk mempertimbangkan penangguhan sementara tarif tinggi yang berdampak pada produk-produk Kolombia, guna memberikan bantuan bagi para pelaku usaha kami yang sedang menghadapi masa-masa sangat sulit akibat dampak gempa bumi," kata De la Espriella dilansir kantor berita AFP, Minggu (16/8/2026).
Penyesuaian tarif impor AS terhadap produk Kolombia sebelumnya telah naik dari 10 persen menjadi 12,5 persen pada akhir Juli. De la Espriella melakukan pembicaraan langsung dengan Trump untuk menjelaskan beban ekonomi yang dihadapi pemerintahannya.
"Percakapan berlangsung sangat hangat dan ramah," kata De la Espriella.
Upaya pemulihan pascabencana menjadi fokus utama pemerintah Kolombia di tengah krisis ekonomi nasional.
"Saya menyampaikan kepadanya bahwa kami memiliki tantangan besar di depan: membangun kembali Kolombia di tengah situasi ekonomi yang sangat sulit dan mengkhawatirkan yang saya warisi," tambahnya.
Di lokasi bencana, tim penyelamat berpacu dengan waktu menembus masa kritis 72 jam pertama guna menemukan korban selamat di bawah runtuhan bangunan.