Jawa Tengah Capai Produksi Padi 6,74 Juta Ton hingga Juli 2026

Share

Provinsi Jawa Tengah mencatat produksi padi sebanyak 6,74 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) hingga periode Januari-Juli 2026, atau mencapai 63,43 persen dari target tahunan sebesar 10,56 juta ton GKG, menurut data resmi dari pemerintah provinsi tersebut.

Produksi padi ini berasal dari luas panen sekitar 1,67 juta hektare pada tahun sebelumnya, dengan peningkatan produksi sebesar 493.684 ton pada 2025, yang menjadikan Jawa Tengah berkontribusi sekitar 15 persen terhadap pangan nasional, dilansir dari Detikcom.

Ketua Gapoktan Desa Gentan, Joko Mursito, menyatakan bahwa panen raya yang terjadi di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga momentum untuk menyampaikan kebutuhan petani kepada pemerintah.

"Alhamdulillah petani Desa Gentan senang, karena aspirasi kami langsung ditangkap Pak Gubernur. Kami merasa diperhatikan dan nyaman," ujar Joko Mursito.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai hasil produksi tersebut merupakan buah dari kerja keras petani dan kolaborasi pemerintah dalam menjaga lahan, irigasi, serta pemanfaatan teknologi pertanian.

"Petani bukan sekadar penanam, tetapi penjaga masa depan bangsa," ujar Ahmad Luthfi.

Luthfi menegaskan bahwa peningkatan produksi pangan membutuhkan peran aktif kabupaten dan kota dalam menjaga lahan pertanian serta memperkuat mekanisasi dan pendampingan kelompok tani.

"Gapoktan kita openi, dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen," ucapnya.

Pemprov Jawa Tengah juga menyediakan bantuan benih dan sarana produksi padi untuk lahan seluas 47.200 hektare pada 2026, termasuk pengembangan tanaman lain seperti jagung, kedelai, cabai, dan bawang merah.

Untuk menjaga lahan pertanian, pemerintah memperketat pengendalian alih fungsi lahan dengan 26 kabupaten/kota telah memenuhi target perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sebesar 87 persen.

Di Kabupaten Rembang, Kelompok Tani Budi Luhur merasakan manfaat dari bantuan irigasi dan alat mesin pertanian yang memungkinkan mereka menanam tiga kali setahun dengan hasil sekitar 7-7,5 ton per hektare.

"Sejak mendapat bantuan irpom, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali," kata Karyono, anggota Kelompok Tani Budi Luhur.

Modernisasi pertanian juga dilakukan melalui integrasi mesin panen, pengolah tanah, penyemprot dekomposer, dan mesin tanam yang mempercepat proses tanam hingga satu hari dari yang sebelumnya bisa mencapai sepuluh hari secara manual.

Selain itu, Pemprov Jawa Tengah membangun dan merehabilitasi jaringan irigasi serta mendistribusikan berbagai alat pertanian, termasuk mesin penanam padi, traktor, pompa air, dan combine harvester.

Perlindungan usaha tani juga diperkuat dengan program Asuransi Usaha Tani Padi untuk lahan seluas 10.449 hektare dan subsidi suku bunga bagi 800 paket pembiayaan petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengingatkan pentingnya distribusi hasil panen agar surplus produksi dapat merata dan menjaga stabilitas harga.

"Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi, agar surplus ini bisa merata dan menjaga stabilitas harga," ujar Defransisco Dasilva Tavares.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author