Sikap Orang dengan EQ Tinggi Saat Menerima Kritik Menurut Pakar

Share

Kecerdasan emosional atau Emotional Intelligence (EQ) memainkan peran penting dalam menentukan cara seseorang merespons masukan negatif. Menurut informasi yang dilansir dari HaiBunda, individu yang memiliki EQ tinggi cenderung meregulasi emosinya dengan tenang dan tidak langsung merasa tersinggung saat mendapatkan kritik.

Kritik tidak dipandang sebagai ancaman atau bentuk serangan pribadi oleh pemilik kecerdasan emosional yang baik. Masukan tersebut justru dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas diri.

Psikolog Dr. Tara Lindahl, PsyD, menjelaskan bahwa orang dengan EQ tinggi memiliki kesadaran diri yang kuat serta kontrol emosi yang stabil. Sikap ini memungkinkan mereka mengakui kekurangan diri dan menjadikan kritik sebagai petunjuk untuk pembenahan.

Selain menyikapi masukan dari luar, pengolahan masukan juga berlaku untuk kritik dari dalam diri atau inner critic. Peneliti Brene Brown mengungkapkan bahwa rasa malu akibat penilaian negatif membutuhkan tiga faktor untuk berkembang, yaitu kerahasiaan, keheningan, dan penghakiman.

Pekerja sosial klinis Anya Surnitsky memberi contoh situasi patah hati saat seseorang mengungkapkan perasaan. Suara hati kerap mengarahkan individu untuk menutup diri agar tidak mengalami hal serupa.

Untuk mengatasi dorongan negatif tersebut, individu dengan kecerdasan emosional tinggi menerapkan sejumlah tindakan konkret berikut:

  • Mencatat kritik atau penilaian paling tajam dari suara hati ke dalam tulisan agar tidak mengendap di pikiran.
  • Membagikan catatan tersebut kepada orang terdekat yang dapat dipercaya guna membuang rasa malu dan kerahasiaan.
  • Menyadari secara penuh bahwa suara negatif di dalam kepala bukan mempresentasikan identitas diri yang sebenarnya.
  • Mengambil kendali atas pikiran sendiri dan memilih narasi baru yang lebih positif serta membangkitkan semangat.

Mengubah pola pikir menjadi lebih objektif membantu seseorang mengendalikan respons emosionalnya. Pada akhirnya, kontrol atas pikiran dan kata-kata yang diizinkan bergema di kepala menjadi tanggung jawab penuh masing-masing individu seiring berjalannya waktu.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author