AS dan Kolombia Rencanakan Operasi Militer Targetkan Kartel Narkoba

Share

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengumumkan rencana operasi militer gabungan bersama Kolombia untuk menghancurkan kelompok bersenjata yang terlibat jaringan teror dan perdagangan narkoba dalam pertemuan Koalisi Antikartel Amerika di Panama, Rabu (12/8/2026).

Langkah militer tersebut memperluas cakupan kebijakan Presiden AS Donald Trump di Amerika Latin yang melibatkan aliansi 19 negara. Pemerintah AS bahkan bersiap mengucurkan bantuan keamanan senilai US$1 miliar atau sekitar Rp17,86 triliun untuk mendukung penindakan berskala besar di bawah kepemimpinan Presiden baru Kolombia, Abelardo De La Espriella.

Sinyal keterlibatan langsung militer AS disampaikan Hegseth saat menyambut masuknya Kolombia ke dalam koalisi. Hegseth membenarkan bahwa opsi serangan darat bersama telah dibahas dengan otoritas Kolombia, termasuk menyasar kelompok Tentara Pembebasan Nasional (ELN) dan sisa-sisa Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).

"Ya," kata Hegseth.

Hegseth menegaskan bahwa penindakan terhadap jaringan pengedar narkoba akan dilakukan secara menyeluruh dengan pengerahan penuh kemampuan militer AS beserta sekutunya.

"Organisasi teroris yang ditetapkan, bersama pemerintah mitra, akan menjadi target yang sah bagi pemerintah Amerika Serikat," kata Hegseth.

Ia menekankan bahwa skema penyerangan tidak hanya terbatas di wilayah perairan Karibia dan Pasifik, tetapi juga menyasar markas darat kelompok pemberontak dan pengedar narkotika.

"Dampaknya di darat pun akan sama, oleh karena itu, kami bekerja sama dengan Ekudaor, kami bekerja sama dengan Kolombia, kami bekerja sama dengan mitra-mitra untuk memerangi DTO (organisasi penyelundup narkoba) di darat," ucap Hegseth.

Hegseth turut menyampaikan peringatan keras kepada kelompok-kelompok yang dituduh mengancam keamanan belahan bumi barat.

"Di mana pun Anda menyelundupkan narkoba atau mengancam rakyat Amerika atau mitra-mitra kami, Anda adalah target, sama seperti ISIS atau Al-Qaeda," tegas Hegseth.

Ia menepis kritik internasional terkait operasi militer AS yang dilancarkan belakangan ini dan memilih mempertegas komitmen Washington dalam menumpas jaringan kejahatan transnasional.

"Kami akan mempertahankan belahan bumi kami dari ancaman eksternal," kata Hegseth.

Hegseth menyatakan pasukan keamanan tidak akan mundur dalam menghadapi jaringan kejahatan terorganisir tersebut.

"Kami akan mendekat dan menghancurkan jaringan-jaringan ini dengan mengerahkan seluruh kemampuan pemerintah Amerika," tandasnya.

Respons positif disampaikan oleh Pemerintah Kolombia melalui Menteri Pertahanan Jorge Eduardo Mora. Purnawirawan mayor jenderal tersebut menyambut baik pengerahan kekuatan gabungan di wilayah pesisir Pasifik maupun Karibia.

"Saya pikir waktunya telah tiba bagi kartel narkoteroris untuk menghadapi kekuatan dan kemampuan seluruh belahan bumi, yang dipimpin oleh Amerika Serikat," kata Mora.

Dukungan serupa diutarakan Presiden Panama Jose Raul Mulino yang menilai kelompok kriminal transnasional sebagai ancaman terbesar bagi kedaulatan negara-negara kawasan.

"Tidak akan pernah ada perdamaian yang berkelanjutan jika musuh ini (maju)," kata Mulino.

Operasi militer AS terhadap kapal-kapal yang dicurigai membawa narkoba sejak September 2025 tercatat telah menewaskan sedikitnya 215 orang. Kemitraan keamanan baru antara Washington dan Bogota ini diproyeksikan akan melampaui cakupan kerja sama Plan Colombia yang diluncurkan pada awal tahun 2000-an.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author