IRGC Pamerkan Bangkai Jet F-15 dan Drone Militer AS di Pangkalan Bawah Tanah
Pasukan Dirgantara Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) memamerkan bangkai jet tempur F-15 dan drone canggih milik Amerika Serikat serta Israel di sebuah pangkalan pertahanan udara bawah tanah. Pameran instrumen militer hasil penembakan jatuh selama perang 40 hari tersebut dipublikasikan pada pertengahan Agustus 2026.
Pengungkapan fasilitas militer rahasia ini merupakan kali pertama IRGC memperlihatkan hasil operasi pertahanan udara terpadunya kepada publik. Di dalam fasilitas bawah tanah tersebut, dipamerkan puing-puing drone strategis MQ-9, Hermes 900, Hermes 450, hingga komponen perangkat internet satelit Starlink yang disita.
Pejabat pertahanan udara IRGC mengklaim jaringan pertahanan udara Iran berhasil menindak total 171 kendaraan udara lawan sepanjang konflik. Angka tersebut mencakup penembakan jatuh atas 10 pesawat berawak serta puluhan drone dan rudal jelajah.
Salah satu barang pameran utama adalah bangkai pesawat tempur F-15 AS yang diklaim jatuh akibat hantaman rudal dari sistem pertahanan udara baru Iran pada awal April 2026. Bekas serpihan ledakan dan kerusakan fatal pada saluran masuk udara terlihat jelas pada kerangka pesawat tersebut.
Perwira pertahanan udara IRGC menjelaskan bahwa sistem rudal lokal berhasil melumpuhkan jet tempur canggih lawan melalui taktik operasional baru. Pilot F-15 dilaporkan baru menyadari ancaman beberapa detik sebelum benturan terjadi sehingga tidak sempat meluncurkan langkah penanggulangan.
Di sisi lain, kesaksian pilot F-15E AS yang selamat mengonfirmasi sengitnya pertempuran udara di atas wilayah Iran. Pejabat intelijen AS mengungkapkan bahwa sang pilot melihat formasi drone Iran di udara menyerupai ladang ranjau melayang.
"Beberapa drone saling terhubung dan bergerak serempak, drone yang lebih kecil di bawah drone yang lebih besar seperti kaki. Benar-benar seperti makhluk asing," kata seorang sumber pejabat intelijen yang mendengar langsung kesaksian sang pilot, seperti dilaporkan CNN.
Pilot F-15E berhasil melontarkan diri dan dievakuasi oleh pasukan khusus AS beberapa jam pasca-kejadian. Sementara itu, krunya harus bersembunyi di area pegunungan selama lebih dari sehari sebelum berhasil diselamatkan.
Selain F-15, pangkalan bawah tanah IRGC juga menampilkan bangkai drone MQ-9 bernomor seri 261 yang masih memuat logo Angkatan Udara Amerika Serikat. Drone multiguna berbobot lima ton dan panjang 20 meter tersebut dilumpuhkan saat menjalankan misi pengintaian.
Komandan pertahanan udara IRGC membeberkan spesifikasi drone pemintai utama milik militer AS tersebut.
"Pesawat ini berbobot lima ton dan panjang 20 meter. Dengan dimensinya yang besar dan rentang sayap yang luas, MQ-9 dianggap sebagai salah satu drone multi-peran paling penting milik militer AS yang mampu melakukan pengintaian, pengumpulan intelijen, dan operasi tempur," ungkap komandan pertahanan udara IRGC.
IRGC mengklaim sistem pertahanan udara buatan dalam negeri mampu menembus empat lapis teknologi penangkal milik musuh, mulai dari peperangan elektronik hingga suar. Kendati infrastruktur militer dihantam perang, perwira senior IRGC mengonfirmasi bahwa lebih dari 85 persen kapasitas produksi sistem pertahanan udara Pasukan Dirgantara berhasil dipertahankan.
"Lebih dari 85 persen infrastruktur produksi untuk sistem pertahanan udara yang diproduksi di kompleks kemandirian Pasukan Dirgantara IRGC telah dipertahankan," ungkap perwira senior itu.
Pihak militer Iran menegaskan bahwa deretan bangkai armada udara yang dipajang di pangkalan bawah tanah tersebut hanyalah sebagian kecil dari total pesawat dan drone musuh yang berhasil dijatuhkan selama pertempuran.