Komunitas Literatour Gelar Aksi Membaca Buku Bersama di MRT Jakarta
Sebanyak 20 orang peserta dari gerakan Literatour menggelar aksi membaca buku bersama di dalam gerbong MRT Jakarta rute Stasiun Lebak Bulus menuju Bundaran HI pada Minggu, 9 Agustus 2026, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Nabila Putri bersama Wahyu Novianto untuk mempromosikan kebiasaan membaca di ruang publik serta mendorong pemanfaatan transportasi umum. Para peserta berkumpul di Stasiun MRT Lebak Bulus Grab sebelum menaiki gerbong kereta yang terhitung lengang.
Perjalanan MRT dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI yang memakan waktu sekitar 30 hingga 31 menit dimanfaatkan para peserta untuk membaca buku fisik maupun perangkat e-reader secara tenang selama gerbong melaju.
Inisiator Literatour, Nabila Putri, menjelaskan bahwa gerakan ini berawal dari kegelisahannya terhadap ketersediaan layanan transportasi umum di kota asalnya, Surabaya, pada tahun 2022 lalu.
"Aku menggabungkan dua kegiatan yang aku sukai yaitu membaca dan mengelilingi kota naik transportasi umum," kata Nabila Putri, Inisiator Literatour.
Nabila memanfaatkan perangkat audio khusus sebagai langkah meredam gangguan suara agar tetap fokus saat membaca di area publik.
"Aku biasanya pakai earbud yang ada noise cancelling-nya, itu salah satu solusi yang aku tawarkan supaya bisa fokus dan nggak terdistraksi dengan sekitar saat baca buku di transportasi umum atau untuk memulai bisa pergi ke taman yang lebih sepi," kata Nabila Putri, Inisiator Literatour.
Ia juga mempertimbangkan jenis buku dan kenyamanan pengguna moda transportasi lain ketika memilih format bacaan yang dibawa selama bepergian.
"Aku membaca buku fisik atau e-reader, tergantung situasinya. Kalau bukunya tidak terlalu berat, aku lebih sering membawa buku fisik. Soalnya, di transportasi umum kita harus berbagi ruang dengan pengguna lain, jadi perlu sadar bahwa ruang yang tersedia terbatas. Bahkan buat teman-teman yang terbiasa mendengarkan audiobook, mungkin lebih praktis lagi karena tinggal mendengarkannya lewat earphone," kata Nabila Putri, Inisiator Literatour.
Selain mendorong kebiasaan literasi, gerakan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat agar mendorong pemerintah meningkatkan jangkauan serta armada transportasi publik.
"Literatour ini sendiri selain untuk ngajak orang baca di transportasi umum, tapi juga untuk meningkatkan awareness bahwa transportasi umum di Surabaya banyak yang butuh, tapi kok nggak bisa terakomodir semaksimal mungkin seperti di Jakarta. Dengan adanya demand, aku berharap pemerintah bisa menambah armada atau jam layanan," kata Nabila Putri, Inisiator Literatour.
Meskipun jaringan transportasi publik di Jakarta sudah melayani akses ke berbagai titik literasi, Nabila menilai masih ada aspek operasional yang perlu ditingkatkan.
"Kalau dari aku lihat transportasi umum di Jakarta sudah cukup banyak menjangkau titik ruang baca. Tapi memang waktu tunggu sampai jam operasionalnya masih bisa dimaksimalkan lagi. Soal nyaman nggak nyaman relatif ya, ada beberapa transportasi umum yang nyaman kayak LRT, MRT, tapi ada yang belum cukup nyaman juga," kata Nabila Putri, Inisiator Literatour.
Melalui kegiatan ini, ia berharap masyarakat tidak merasa sungkan atau ragu untuk membaca buku di berbagai tempat publik.
"Membaca itu tidak menyakiti siapa pun dan membaca adalah hak kamu, jadi kamu jangan takut dan baca dimana saja," kata Nabila Putri, Inisiator Literatour.
Salah satu peserta acara, Merry Apsari, mengaku tertarik bergabung setelah melihat informasi kegiatan tersebut melalui media sosial Instagram.
"Seru banget sih karena kita naik MRT dari Lebak Bulus ke Bundara HI, jadi ada cukup banget waktu buat baca buku. Aku udah baca seperlima bukunya. Tadi saja ada yang bilang bisa baca 20-30 halaman buku," kata Merry Apsari, Peserta Literatour.
Merry menilai bahwa membaca bersama dalam grup di transportasi publik membantunya lebih fokus dibandingkan saat membaca seorang diri.
"Enak jadi ada temannya. Kalau sendiri kadang malah bisa terdistraksi dengan apa yang terjadi di sekitar kita, ini lebih fokus rasanya," kata Merry Apsari, Peserta Literatour.
Ia telah terbiasa menggunakan beragam moda transportasi umum sehari-hari serta rutin membawa buku guna menekan durasi penggunaan layar ponsel.
"Aku kemana-mana naik transportasi umum. Kebetulan rumah dekat stasiun kereta, ada halte bus dan angkot juga. Jadi kalau kemana-mana lumayan terbiasa bawa buku untuk mengisi waktu dan mengurangi screen time," kata Merry Apsari, Peserta Literatour.
Rangkaian kegiatan Literatour hari itu ditutup dengan sesi lokakarya pembuatan kantong buku yang diikuti oleh seluruh peserta setelah tiba di lokasi tujuan.