AS Bantah Laporan Tewas dan Kondisi Buruk di Kapal Induk USS Abraham Lincoln

Share

Amerika Serikat membantah laporan yang menyatakan tujuh personel tewas dan kondisi buruk di kapal induk USS Abraham Lincoln yang tengah bertugas di Timur Tengah, kata Komando Pusat AS (CENTCOM), Jumat (14/8/2026).

Laporan sebelumnya yang dikutip dari media Iran menyebut bentrokan fisik antar awak kapal menggunakan senjata tajam dan kondisi kesehatan mental yang memburuk akibat masa penugasan berkepanjangan. Namun, CENTCOM menegaskan tidak ada kematian dan kapal tersebut tetap beroperasi normal.

Menurut CENTCOM, USS Abraham Lincoln memiliki tingkat perpanjangan masa tugas awak tertinggi di antara kapal induk AS, sekitar 84,4 persen, dengan pelaut dan marinir tetap tangguh setelah lebih dari 260 hari di laut dan 10.000 penerbangan pesawat.

Presiden AS Donald Trump juga membantah kekhawatiran soal kondisi awak kapal dan masa penugasan yang dianggapnya belum cukup lama, meski kapal sudah berlayar selama sembilan bulan.

"Tidak, mereka tidak khawatir," ujar Trump saat ditanya apakah keluarga para awak khawatir, dan menambahkan, "Belum cukup lama" terkait durasi penugasan.

Trump menyatakan kapal akan segera digantikan oleh kapal induk lain yang serupa. Pejabat Angkatan Laut AS menyebut USS George Washington sebagai kapal pengganti yang akan datang.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menolak laporan yang menyebut kondisi kapal buruk dan menyatakan laporan tersebut disalahpahami.

Namun, beberapa anggota parlemen dari Partai Demokrat, termasuk Senator Richard Blumenthal dan Ruben Gallego, mengungkapkan kekhawatiran atas kesehatan fisik dan mental pelaut, serta persoalan logistik dan kebersihan di kapal induk tersebut.

Senator Chuck Schumer menyerukan pemecatan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, menyebutnya tidak kompeten, setelah laporan kericuhan dan kondisi buruk di kapal induk tersebut.

Selain itu, Angkatan Laut AS mengonfirmasi seorang pelaut jatuh ke laut pada awal Agustus dan berhasil diselamatkan, namun tidak menjelaskan apakah insiden tersebut terkait kondisi mental.

Di sisi lain, Iran menolak keras klaim Trump yang menyatakan Selat Hormuz akan menjadi wilayah AS, menegaskan kendali sepenuhnya atas jalur strategis tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan, "Selat Hormuz telah menjadi milik Iran, adalah milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran." Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menegaskan belum ada negosiasi damai dengan AS.

Sementara itu, situasi keamanan di Selat Hormuz memburuk setelah sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal, menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations Centre.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author