Rusia Tuntut Penjelasan AS dan Turki Terkait Pasokan Senjata ke Ukraina

Share

Kementerian Luar Negeri Rusia menuntut penjelasan resmi dari Pemerintah Amerika Serikat dan Turki menyusul terungkapnya dokumen Kongres terkait rencana pengiriman pasokan persenjataan berskala besar ke Ukraina pada Minggu, 16 Agustus 2026.

Berdasarkan laporan Departemen Luar Negeri AS kepada Kongres, transaksi tersebut mencakup pengalihan permanen 12 peluncur Sistem Peluncur Roket Multi (MLRS) M270, 2.524 roket M26 DPICM tanpa pemandu, 47.000 peluru artileri cluster kaliber 203 mm, serta 70 rudal taktis ATACMS M39.

Pengiriman persenjataan tersebut rencananya difasilitasi oleh tiga entitas swasta asal Turki, yaitu MKE, ASFAT, dan ARCA Savunma, bersama perusahaan Bulgaria VTIC International Ltd., serta dua perusahaan swasta AS, Pansophico dan Patriot Defense Group.

Pemerintah Rusia menegaskan bahwa tambahan amunisi ini tidak akan menghentikan operasi militer khusus Moskow, tetapi berisiko memperburuk hubungan diplomatik antarnegara.

"Kementerian Luar Negeri Rusia telah meminta penjelasan dari Washington dan Ankara," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dikutip dari Sputnik.

Ia menambahkan bahwa opsi penilaian situasi secara bijak masih terbuka bagi pihak AS dan Turki sebelum keputusan tersebut berdampak panjang.

"Beberapa negara melanggar Hukum Laut dengan mencoba membatasi pergerakan pedagang sipil kami. Mereka menyita kapal kami dan menjual barang rampasan tersebut. Ini tidak lain adalah aksi perampokan dan perompakan (bajak laut)," tegas Vladimir Putin seperti dilansir RT.

Sementara itu, pihak Kremlin menilai keterlibatan pasokan persenjataan dari negara-negara Barat secara langsung menarik anggota NATO ke dalam konflik bersenjata serta menghambat jalur negosiasi damai.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa setiap pengiriman persenjataan yang menuju wilayah Ukraina akan menjadi sasaran militer yang sah bagi pasukan Rusia.

Di tengah eskalasi geopolitik tersebut, anggota aliansi NATO seperti Polandia mengerahkan 60 pesawat militer, 2.000 prajurit, dan 300 kendaraan tempur dalam parade Hari Angkatan Bersenjata di Warsawa pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sisi lain, Kementerian Keuangan Rusia mencatat defisit anggaran federal membengkak 32,3 persen menjadi USD79 miliar atau setara Rp1.411 triliun pada periode Januari-Juli 2026 akibat penurunan penerimaan migas dan lonjakan belanja negara.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author