Alasan Tidak Adanya Teh Indonesian Breakfast Terungkap
Popularitas teh English Breakfast sudah mendunia sebagai pendamping menu pagi hari. Kebiasaan masyarakat lokal dan faktor sejarah ternyata menjadi alasan utama belum tersedianya varian teh Indonesian Breakfast.
Pencinta teh Indonesia, Oza Sudewo, membeberkan awal mula terciptanya teh English Breakfast. Kemunculan jenis teh ini berkaitan erat dengan perubahan sosial di Inggris.
"English Breakfast itu baru tercipta di awal 1800an di Inggris. Saat itu terjadi revolusi industri, di mana kelas pekerja itu baru tercipta, karena sebelumnya kan adalah kelas petani," kata Oza dalam unggahan Instagram @ozasudewo, dilansir dari Detik Food.
Jam kerja yang sangat panjang dihadapi oleh golongan kelas pekerja pada masa revolusi industri. Kebutuhan fisik mereka menuntut porsi sarapan yang sangat mengenyangkan.
"Dulu mungkin mereka bisa kerja 12, 16, sampai 18 jam. Jadi mereka itu harus sarapan yang benar-benar 'berat'," kata Oza.
Sajian sarapan Inggris diisi oleh bahan makanan padat seperti sosis, tomat, baked beans, bacon, telur, roti, hingga black pudding. Santapan bernutrisi tinggi tersebut membutuhkan minuman penyeimbang yang sepadan.
"Akhirnya tercipta lah English Breakfast sebagai teh untuk teman sarapan," kata Oza.
Karakteristik racikan teh ini terdiri atas tiga unsur utama. Rasanya wajib kaya, segar, dan berbobot demi mengimbangi porsi makanan yang dikonsumsi.
"Biasanya pedagang Inggris akan mengambil (teh) dari beberapa negara supaya tercipta kombinasi English Breakfast," kata Oza.
Besarnya pangsa pasar pekerja mendorong berbagai produsen berlomba membuat formula English Breakfast versi masing-masing. Kepopuleran minuman ini pun bertahan hingga saat ini.
Penciptaan varian baru sebenarnya menjadi kebebasan bagi setiap produsen. Kehadiran racikan baru bergantung pada kedalaman riset serta penerimaan dari masyarakat luas.
"Mungkin tidak ada yang menamakan Indonesian Breakfast, tapi kita sebagai orang Indonesia ketika sarapan minum teh, secara budaya kalau saya lihat, teh apapun (sebenarnya) kita minum. Karena kan sarapan kita juga nggak 'berat-berat' amat," kata Oza.
Menu sarapan masyarakat Indonesia seperti nasi uduk, bubur, serabi, dan ketoprak tergolong lebih ringan ketimbang porsi tradisional warga Inggris. Hal itu memengaruhi profil rasa teh yang dibutuhkan.
"Jadi kalau kita mau menciptakan Indonesian Breakfast, tehnya kemungkinan besar tidak akan se-rich, fresh, dan heavy seperti English Breakfast tadi," kata Oza.