Panglima IRGC Apresiasi Enam Bulan Operasi Militer Pasukan Iran
Panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran, Mayor Jenderal Ahmad Vahidi, menyampaikan penghargaan kepada Angkatan Bersenjata Iran atas keberhasilan enam bulan operasi militer ofensif dan defensif dalam kondisi ekstrem pada Sabtu (15/8/2026). Vahidi menyebut operasi tersebut berlangsung di tengah tantangan iklim yang berat, mulai dari cuaca panas dan kelembapan tinggi di wilayah selatan hingga suhu beku di kawasan pegunungan utara. Pengakuan tersebut disampaikan setelah konflik bersenjata yang dimulai dari serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, sebelum akhirnya disepakati gencatan senjata pada 8 April 2026 usai perlawanan sengit dari pihak Iran.
Dalam pesan tertulis bertepatan dengan masuknya bulan Rabiulawal, Vahidi menilai daya tahan dan pengorbanan para prajurit telah membuktikan ketangguhan militer Iran di bawah tekanan pertempuran sengit.
"Kalian telah membuat 'militer paling bersenjata dalam sejarah dunia bertekuk lutut'," kata Panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran, Mayor Jenderal Ahmad Vahidi. Pesan penghargaan tersebut disampaikan Vahidi kepada seluruh jajaran Korps Garda Revolusi, Angkatan Darat, kepolisian, Basij, kelompok masyarakat suku, hingga para personel intelijen yang berjuang di lapangan.
"Kemuliaan dan keagungan yang kalian tunjukkan dengan enam bulan jihad yang tak tertandingi melawan musuh-musuh kemanusiaan yang haus darah telah memukau mata dunia dan menghidupkan kembali harapan kemenangan akhir atas para penindas di hati orang-orang yang tertindas," kata Mayor Jenderal Ahmad Vahidi. Vahidi menambahkan bahwa keberhasilan di medan perang dicapai melalui integrasi nilai spiritual dan keteguhan taktis seluruh elemen pasukan.
"Kalian telah membuat pasukan bersenjata terberat dalam sejarah dunia bertekuk lutut dengan mengandalkan Tuhan Yang Maha Kuasa dan berjuang dengan penuh kemenangan dalam kondisi yang sangat sulit, panas terik dan menyengat di pulau-pulau dan pantai-pantai selatan serta dinginnya dataran tinggi perbatasan Iran utara, dan melalui operasi ofensif dan defensif yang sukses di bawah tembakan hebat," kata Mayor Jenderal Ahmad Vahidi. Ia menuturkan bahwa perjuangan ini meneladani nilai-nilai pengorbanan Ahlulbait serta menghidupkan kembali semangat sejarah Perang Iran-Irak dan pertempuran awal Islam seperti Badr, Khandaq, serta Khaybar. "Kalian, dengan mengandalkan Tuhan Yang Maha Kuasa dan berjuang dengan penuh kemenangan di bawah kondisi yang sangat sulit—dari panas terik dan kelembapan tinggi di pulau-pulau dan pantai selatan hingga suhu beku di pegunungan perbatasan yang menjulang tinggi di utara—telah membuat tentara paling bersenjata dalam sejarah dunia bertekuk lutut melalui operasi ofensif dan defensif yang sukses di bawah tembakan hebat," kata Mayor Jenderal Ahmad Vahidi.
Menurutnya, pengelolaan pertempuran yang efektif di bawah kepemimpinan Ayatollah Sayyid Mojtaba Khamenei telah mengukuhkan posisi Iran dalam tatanan geopolitik kawasan.
Selain itu, Vahidi turut menyampaikan apresiasi kepada ketahanan masyarakat sipil Iran serta mengutarakan harapan agar penderitaan rakyat Palestina dan Lebanon segera berakhir. Situs berita Pars Today, Mehr News Agency, dan Islam Times melaporkan bahwa pernyataan Vahidi menegaskan kesiapan Iran untuk terus mempertahankan kedaulatan negaranya dari segala bentuk agresi asing.