Andrea Dovizioso Soroti Dominasi Aprilia dan Kepemimpinan Marc Marquez

Share

Mantan pembalap MotoGP Andrea Dovizioso menyoroti keunggulan tim Aprilia serta peran kepemimpinan Marc Marquez di Ducati setelah berakhirnya balapan di Sirkuit Silverstone pada Minggu, 16 Agustus 2026.

Performa dominan ditunjukkan pasukan Aprilia melalui sapu bersih podium di sprint race maupun grand prix, didukung rekor lap baru Marco Bezzecchi sebesar 1 menit 56,280 detik. Sementara itu, hasil terbaik Ducati hanya diraih Alex Marquez yang finis keempat, sedangkan Marc Marquez harus puas di posisi kesembilan dan ketujuh.

Menanggapi situasi tersebut, Dovizioso mengingatkan Aprilia agar tetap waspada dan memaksimalkan momen saat pesaing terberat mereka sedang mengalami kelemahan.

"Mereka harus memanfaatkan momen ini karena saat ini Marc Marquez yang bisa dibilang merupakan sosok yang paling mungkin menyulitkan mereka, sedang kesulitan. Entah karena motor Ducati sedikit kalah unggul di lintasan khusus ini, atau karena dia masih memiliki keterbatasan fisik," ujar Andrea Dovizioso, penguji coba Yamaha.

Penegasan mengenai pentingnya mengumpulkan poin sebanyak mungkin juga disampaikan Dovizioso mengingat peta persaingan dapat berubah pada seri-seri berikutnya.

"Mereka harus mengumpulkan poin sebanyak mungkin dalam balapan-balapan ini. Sebab nantinya, di Aragon misalnya, ada kemungkinan Marc bisa membuat perbedaan seperti yang dia lakukan di Sachsenring. Jadi ya, mereka harus melakukannya," kata Dovizioso, mantan pembalap asal Italia.

Karakteristik Silverstone yang unik, lebar, dan menuntut menurutnya tidak bisa menjadi tolok ukur mutlak sepanjang musim, meski tetap mengonfirmasi keunggulan tipis Aprilia atas Ducati.

"Silverstone adalah trek yang sangat unik. Sirkuit ini bukan trek yang bisa menunjukkan dengan tepat, bagaimana situasi sebenarnya sepanjang tahun karena karakteristiknya ekstrem, sangat lebar, dan menuntut di segala aspek. Namun menurut saya, Silverstone kembali mengonfirmasi kekuatan yang kita lihat di lintasan tahun ini.

Artinya, Aprilia memang sedikit lebih unggul dibandingkan Ducati. Meski begitu selisihnya tidaklah besar," tutur Dovizioso.

Performa Alex Marquez yang mampu mengelola cengkeraman ban hingga finis dekat dengan podium menjadi indikasi bahwa jarak performa antar motor sebenarnya tidak terlalu jauh.

"Alex yang sangat pandai mengelola cengkeraman ban, sebenarnya mampu meraih podium dan gapnya pun tipis. Hal itu mengisyaratkan bahwa perbedaan performa antar motor tidaklah sebesar yang terlihat. Kendati demikian, Aprilia sudah membuktikan keunggulan daya saing mereka karena para pembalapnya secara konsisten lebih mudah berada di barisan depan baik saat kualifikasi, sprint, maupun balapan utama," ucap Dovizioso.

Mengenai sosok Marc Marquez, Dovizioso menilai karakter kerja keras dan perencanaan matang menjadikan juara dunia tersebut sebagai pemimpin alami yang baru disadari oleh Ducati.

"Saya yakin Marc adalah seorang pemimpin karena caranya bekerja dan pendekatannya. Itulah sebabnya dia membuat orang-orang yang bekerja bersamanya merasa nyaman. Tentu saja bakatnya turut berperan ketika kita bisa melaju cepat dan segala sesuatu terasa lebih mudah bagi kita, semuanya menjadi lebih sederhana," ungkap Dovizioso.

Faktor di balik layar dan disiplin tinggi dipandang sebagai elemen kunci yang melengkapi talenta balap milik Marquez di atas lintasan.

"Namun itu saja tidak cukup. Kalau kita mempelajari dan menganalisis perilakunya, kita akan melihat bahwa tindakannya terencana dan penuh perhitungan. Dia tidak sekadar turun ke lintasan dengan pikiran, 'saya akan tampil hebat dan meninggalkan semua orang jauh di belakang'. Ada banyak kerja keras di balik layar, sama halnya dengan banyak pembalap sukses lainnya yang memprioritaskan aspek-aspek ini," puji Dovizioso.

Dovizioso menegaskan bahwa kapasitas Marquez sebagai pemimpin sudah ia rasakan sejak masih menjadi rival sengitnya di lintasan balap.

"Bagi saya, Marc adalah seorang pemimpin. Sekarang Ducati sudah memahami seperti apa Marc, sebelumnya mereka tidak melihat hal itu. Namun saat saya masih bersaing melawannya, saya memang melihatnya.

Saya tahu betapa kuatnya dia dan betapa hebatnya dia dalam hal ini. Ducati baru menyadarinya sekarang," tambah Dovizioso.

Selain membahas Marquez, Dovizioso memberikan apresiasi atas keberanian Marco Bezzecchi yang berhasil mengamankan podium ketiga usai bangkit dari cedera dan kegagalan poin di empat seri sebelumnya.

"Menurut saya keputusannya berani mengambil risiko untuk mengamankan posisi ke-3, itu tepat. Hal itu menjadi bukti tambahan bahwa dia adalah seorang penantang gelar dunia. Itu akan menjadi modal berharga baginya dalam balapan-balapan mendatang.

Ini bukan sekadar soal tambahan poin yang dia peroleh, melainkan soal pendekatan dan mentalitasnya. Dia melakukan hal yang benar. Senang rasanya melihatnya begitu emosional, pemandangan yang luar biasa," kata Dovizioso.

Terkait persaingan gelar juara dunia, Dovizioso menilai Jorge Martin sebagai pembalap Aprilia yang paling siap, meski musim masih menyisakan banyak balapan.

"Kalau ditanya siapa pembalap Aprilia yang paling siap baik dari segi kemampuan maupun karena dia sudah pernah memenangkan gelar, jawabannya pastilah Jorge Martin. Lagipula, masih banyak balapan tersisa. Akan ada balapan di mana Ducati dan Marc benar-benar bisa membuat perbedaan, dan kita harus melihat bagaimana situasi-situasi tersebut ditangani," pungkas Dovizioso.

Di sisi lain, pembalap VR46 Ducati Franco Morbidelli mengungkapkan kendala besar terkait penurunan kualitas ban selama balapan 20 lap di Silverstone hingga membuatnya terlempar ke posisi ke-11.

"Menurut saya, balapan hari ini berjalan cukup baik. Saya melakukan start yang bagus dan berusaha bertahan di dekat para pembalap terdepan selama mungkin. Saya rasa saya berhasil melakukannya hingga lap ke-9," ujar Franco Morbidelli, pembalap VR46 Ducati.

Morbidelli menjelaskan bahwa usahanya mempertahankan posisi di awal balapan justru menguras performa ban belakang lebih cepat.

"Jadi, saya berada di posisi yang bagus pada paruh pertama balapan dan merasa senang karenanya. Namun, mungkin karena berusaha mempertahankan posisi itu, saya terlalu menekan ban belakang dan mulai mengalami masalah serius. Paruh kedua balapan terasa seperti mimpi buruk, benar-benar mimpi buruk," tutur Morbidelli.

Meskipun kehilangan irama balap di paruh kedua, Morbidelli tetap mengambil sisi positif dari usahanya mengalirkan potensi maksimal motor.

"Saya kehilangan momentum dan ritme, dan hanya bisa berusaha bertahan semampu saya. Namun secara keseluruhan, ini adalah akhir pekan yang positif dan saya senang. Hari ini, saya lebih fokus mengerahkan kemampuan maksimal daripada memikirkan gaya balap. Saya bertekad untuk lebih memaksimalkan performa motor," jelas Morbidelli.

Tingkat degradasi ban disebutnya dapat sangat bervariasi dan memengaruhi berbagai aspek pengendalian kendaraan di lintasan.

"Penurunan performa ban bisa bervariasi setiap saat. Levelnya bisa jadi ringan, sedang, atau parah. Hal ini bisa memengaruhi pengereman, pengendalian saat menikung, atau akselerasi.

Bisa juga memengaruhi ketiga aspek tersebut. Semuanya sangat bergantung pada situasi. Terkadang kondisinya sangat buruk.

Di lain waktu, kita hanya kehilangan sedikit feeling. Tetapi di waktu yang lain, sering kali performanya relatif sama. Penurunan performa ban bisa sangat bervariasi tergantung pada pilihan ban yang digunakan," papar Morbidelli.

Ia menegaskan hampir seluruh pembalap mengalami tantangan serupa menghadapi keausan ban di Sirkuit Silverstone.

"Dalam kasus saya, penurunan performa hari ini sangat besar sehingga saya kehilangan banyak kecepatan. Di sirkuit ini semua pembalap kesulitan menghadapi tingkat penurunan performa seperti itu, kecuali Aprilia. Itu adalah salah satu kasus penurunan performa yang sangat drastis," tegas Morbidelli.

Morbidelli juga mengamati gaya membalap pembalap lain yang mampu mengatasi masalah degradasi ban dengan baik.

"Menurut pengamatan saya, ada pembalap yang mampu mempertahankan performa meskipun ban mereka juga mengalami penurunan. Tapi mereka mampu mengatasinya. Mereka melakukan pengereman lebih lambat dan berakselerasi jauh lebih baik.

Namun saya juga melihat yang sama pada Marc Marquez, Fabio Di Giannantonio, dan terkadang Alex Marquez. Jadi, mungkin masalahnya ada pada diri saya. Saya tidak tahu," tutup Morbidelli.

Hingga seri ke-12, Jorge Martin memimpin klasemen sementara MotoGP dengan unggul 31 poin atas Marco Bezzecchi, sementara Marc Marquez menempati peringkat keempat dan Franco Morbidelli berada di posisi ke-16 dengan 53 poin.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author