Harga Emas Berpotensi Volatil Pekan Depan Jelang Risalah The Fed
Harga emas dunia diproyeksikan bergerak volatil dan berpotensi mengalami koreksi jangka pendek menuju level support US$ 4.220 per troy ons pada pekan depan, seiring langkah investor mencermati rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) serta sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat.
Pergerakan ini terjadi setelah emas ditutup menguat 0,59 persen ke posisi US$ 4.375,89 per troy ons pada perdagangan Jumat (14/8/2026), memperpanjang tren positif selama dua pekan beruntun dengan kenaikan mingguan sebesar 0,79 persen. Penguatan tersebut didorong oleh penurunan indeks dolar AS ke level 99,67 yang dipicu oleh data inflasi serta belanja konsumen AS yang melunak.
Sinyal meredanya tekanan inflasi dikonfirmasi oleh data Producer Price Index (PPI) AS periode Juli yang stagnan dibanding bulan sebelumnya. Kondisi tersebut memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS pada September 2026 menjadi 31 hingga 33 persen, turun tajam dari posisi 55 persen pada pekan sebelumnya, dengan mayoritas analis memproyeksikan suku bunga bertahan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.
Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange, memberikan penjelasan terkait faktor pendorong penguatan harga emas tersebut.
"Indeks dolar AS yang lebih rendah menjadi faktor eksternal yang mendukung harga emas hari ini," kata Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange.
Analis pasar di American Gold Exchange ini juga menambahkan peringatan terkait ketegangan di Selat Hormuz yang berpotensi menaikkan harga minyak mentah dan memicu inflasi kembali naik.
"Jika harga minyak terus naik, hal itu akan menjadi faktor negatif bagi pasar logam karena dapat mendorong inflasi dan memicu bank sentral menaikkan suku bunga," ujar Jim Wyckoff, analis pasar di American Gold Exchange.
Lembaga perbankan internasional Commerzbank turut memberikan pandangannya mengenai arah pergerakan harga emas di tengah proyeksi kebijakan moneter AS.
"Karena kami memperkirakan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga, harga emas masih memiliki potensi untuk kembali naik," kata Commerzbank.
Di sisi lain, proyeksi mengenai koreksi teknikal disampaikan oleh analis Dupoin Futures Geraldo Kofit. Ia menilai tekanan jual jangka pendek berpotensi muncul akibat aksi ambil untung setelah emas sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir.
"Pelaku pasar perlu mencermati peluang terbentuknya koreksi jangka pendek sebelum tren utama kembali menemukan arah berikutnya," kata Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures.
Geraldo Kofit menerangkan bahwa sinyal penurunan mulai terlihat pada time frame harian akibat berkurangnya momentum pembentukan swing high baru dan munculnya secondary trend yang mengarah ke bawah.
"Terbentuknya swing high sering menjadi indikasi bahwa pasar mulai memasuki fase konsolidasi atau koreksi sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya," ujar Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures.
Pakar analis pasar modal Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menyampaikan analisisnya mengenai dampak kenaikan harga emas global yang sempat menyentuh US$ 4.300 per ons troi bagi emiten tambang PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).
Muhammad Nafan Aji Gusta Utama, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas menyebut, kondisi struktur biaya tetap ini memberikan operating leverage yang tinggi bagi PSAB sehingga setiap kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) emas akan berpotensi langsung memperlebar margin laba kotor dan laba bersih perusahaan.
Fokus perhatian pasar pada pekan depan akan tertuju pada rilis risalah FOMC rapat 28-29 Juli pada Rabu (19/8/2026), diikuti data New York Empire State Manufacturing Index pada Senin (17/8/2026), data perumahan pada Selasa (18/8/2026), klaim pengangguran mingguan pada Kamis (20/8/2026), serta Flash S&P Global Composite PMI pada Jumat (21/8/2026).