Pemerintah Filipina Hentikan Pencarian Korban Selamat Gedung Ambruk Angeles City
Pihak berwenang Filipina menghentikan operasi pencarian dan penyelamatan korban selamat dari ambruknya bangunan sembilan lantai di Angeles City pada Senin (25/05) malam. Langkah ini diambil setelah tim penyelamat memastikan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan gedung yang masih dalam tahap konstruksi tersebut.
Fokus petugas kini beralih pada pencarian jenazah korban mulai Selasa (26/05), seperti dilansir dari Detikcom. Insiden tragis yang dipicu oleh hantaman badai hebat pada Minggu (24/05) sekitar pukul 03.00 dini hari waktu setempat ini telah menyebabkan empat orang dipastikan tewas dan 16 orang lainnya hilang.
Harapan sempat muncul ketika sensor termal mendeteksi indikasi kehidupan pada Senin pagi, namun tidak ada korban selamat atau jenazah baru yang ditemukan setelahnya. Sebagian besar dari 16 korban hilang merupakan pekerja konstruksi yang tengah tertidur di lokasi saat struktur bangunan tersebut runtuh.
Evelyn Alicaway menceritakan momen memilukan saat dirinya mengetahui sang ayah menjadi salah satu korban jiwa setelah melihat rekaman proses evakuasi yang beredar di media sosial.
"Meskipun wajahnya diburamkan, saya langsung tahu itu dia. Sangat menyakitkan melihat ayah saya seperti itu," kata Alicaway sambil menangis di pemakaman ayahnya.
Pihak berwenang setempat segera merespons duka keluarga korban melalui pernyataan resmi dalam konferensi pers yang digelar pada Selasa (26/05).
"Kami turut bersimpati atas apa yang Anda alami. Yakinlah, kami telah melakukan segala yang kami bisa untuk menyelamatkan nyawa, dan sekarang kita harus melangkah maju," kata petugas informasi di Biro Pemadam Kebakaran regional, Maria Leah Sajili.
Keluarga korban mendesak adanya pertanggungjawaban penuh dari pihak manajemen perusahaan atas pemenuhan hak-hak para pekerja yang terdampak musibah ini.
Kami berharap pemilik perusahaan akan bertanggung jawab dan menangani masalah yang menimpa para pekerja. Keluarga-keluarga mereka juga sedang menderita. Ini bukanlah yang kami inginkan, tetapi mereka perlu berkoordinasi dengan kami," kata ibu Alicaway, Rosenda.
Penyelidikan mendalam kini sedang berjalan untuk mengungkap penyebab utama runtuhnya bangunan serta potensi adanya pelanggaran izin konstruksi proyek tersebut. Departemen Tenaga Kerja Filipina tercatat pernah membekukan proyek ini pada September 2025 karena ditemukan pelanggaran fatal terkait standar keselamatan kerja.
Para pengawas ketenagakerjaan kala itu menemukan bahwa para pekerja di lapangan tidak dibekali alat pelindung diri yang memadai serta minim pencahayaan.
"Inspektur tenaga kerja kami menemukan kondisi kerja yang buruk, sebuah pelanggaran yang dapat membahayakan pekerja," kata Panlilio dalam wawancara di stasiun radio DZMM di Manila.
Kontraktor sempat diizinkan melanjutkan kembali aktivitas pembangunan satu bulan pasca-pembekuan setelah mereka mengklaim telah memenuhi seluruh regulasi keselamatan yang diwajibkan pemerintah.