Negara Anggota Quad Perluas Infrastruktur Pertahanan di Indo-Pasifik
Para menteri luar negeri dari Amerika Serikat, India, Jepang, dan Australia yang tergabung dalam aliansi Quad sepakat memperluas infrastruktur pertahanan di kawasan Indo-Pasifik. Kesepakatan tersebut diambil dalam pertemuan yang berlangsung di New Delhi selama tiga hari sejak Minggu, 24 Mei 2026, seperti dilansir dari Detikcom.
Pertemuan tingkat menteri luar negeri ini digelar guna membahas masalah keamanan di kawasan Indo-Pasifik, pasokan energi, hingga perkembangan teknologi baru. Selain agenda resmi tersebut, para diplomat juga berupaya menjaga relevansi aliansi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat sikap agresif Cina.
Upaya menjaga keutuhan Quad menghadapi tantangan besar karena aliansi ini belum menggelar pertemuan tingkat pemimpin nasional sejak tahun 2024. Hubungan antara India dan Amerika Serikat juga sempat memburuk setelah Presiden Donald Trump memberlakukan tarif tambahan pada impor asal India serta mengkritik pembelian militer dari Rusia.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio kini mengemban misi diplomatik sensitif untuk meredakan ketegangan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi. Langkah ini krusial mengingat posisi India sangat penting bagi efektivitas aliansi pertahanan tersebut.
"AS, Jepang, dan Australia sebenarnya sudah memiliki kerja sama keamanan trilateral yang penting dan efektif. Tetapi tujuan utama Quad adalah membawa India masuk sebagai kekuatan tambahan agar aliansi ini memiliki pengaruh dan jangkauan yang lebih besar," kata James Brown, profesor hubungan internasional di kampus Tokyo milik Temple University.
James Brown menambahkan bahwa situasi komunikasi saat ini sempat memicu kekecewaan di pihak India. Meski demikian, kehadiran perwakilan diplomatik dinilai memberikan ruang negosiasi yang lebih baik bagi keberlangsungan aliansi.
"Sayangnya, pemerintahan AS saat ini tampaknya tidak memahami atau menghargai pentingnya kehadiran India sebagai sekutu, dan itu membuat Modi sangat kecewa," ujar James Brown kepada DW.
Kondisi internal aliansi ini memicu kekhawatiran dari sejumlah pengamat internasional mengenai masa depan eksistensi Quad di kawasan. Pertemuan pemimpin berikutnya direncanakan bakal diselenggarakan di Australia pada akhir tahun 2026.
"Quad akan terdegradasi menjadi tidak signifikan secara geopolitik, bahkan bisa menandai berakhirnya kelompok ini," kata Derek Grossman, profesor di University of Southern California dalam tulisannya di majalah Foreign Policy.
Pihak yang dinilai paling diuntungkan dari potensi melemahnya aliansi ini adalah Beijing. Hubungan kerja sama keamanan minilateral yang renggang dapat memengaruhi stabilitas negara-negara kecil di sekitar kawasan Indo-Pasifik.
"Beijing secara konsisten memandang Quad dengan kecurigaan dan sering menggambarkannya sebagai upaya pembendungan terhadap Cina," kata Joseph Kristanto, analis keamanan maritim di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura.
Ketidakpastian komitmen dari Washington dinilai berpotensi memicu keresahan bagi negara-negara lain yang mencari keseimbangan kekuatan politik yang stabil. Keretakan hubungan antaranggota juga dapat melemahkan posisi tawar aliansi di mata internasional.
"Quad yang melemah atau terpecah akan memperkuat narasi tentang menurunnya komitmen AS, ketidaksatuan sekutu, dan keterbatasan kerja sama keamanan minilateral di Indo-Pasifik," kata Joseph Kristanto kepada DW.
Kendati demikian, karakter Quad yang bersifat informal dan fleksibel dinilai memberikan ketahanan strategis tersendiri dari risiko kehancuran total. Aliansi ini juga tercatat pernah melewati masa-masa vakum politik yang serupa pada masa lalu.
"Ikan tidak melihat ketegangan terbaru di dalam Quad sebagai tanda runtuhnya kepentingan bersama. Justru ini menunjukkan tantangan yang semakin besar dalam mengelola kemitraan antara empat negara dengan budaya strategis, prioritas, dan ekspektasi yang berbeda," kata Joseph Kristanto.
Hingga saat ini, New Delhi masih memegang teguh prinsip otonomi strategis dan cenderung berhati-hati terhadap bentuk aliansi militer formal yang kaku. Perbedaan pandangan mengenai isu perdagangan dan relasi dengan Rusia tetap membayangi kemitraan kedua negara.
"Meski kerja sama pertahanan semakin dalam dan kepentingan strategis di Indo-Pasifik semakin sejalan, Washington dan New Delhi masih melihat kemitraan ini dari perspektif yang berbeda," kata Joseph Kristanto.
Faktor struktural berupa kekhawatiran bersama terhadap dominasi Cina menjadi jangkar utama yang mempertahankan hubungan diplomatik ini. Namun, ancaman kemunduran performa politik aliansi tetap menjadi perhatian para analis.
"Risiko terbesar yang dihadapi Quad adalah kemunduran strategis secara perlahan, yang ditandai dengan semakin sedikitnya pertemuan tingkat tinggi, menurunnya momentum, melemahnya koordinasi, dan perlahan hilangnya relevansi politik," ujar Joseph Kristanto kepada DW.
Apabila fokus diplomasi Washington beralih, opsi perluasan keanggotaan dengan melibatkan Korea Selatan, Selandia Baru, dan Vietnam berpeluang kembali dibahas. Keberhasilan aliansi kini bertumpu pada manajemen perbedaan visi antarnegara anggota.
"Isu utamanya bukan apakah para pemimpin bisa menghilangkan seluruh ketegangan yang ada, tetapi apakah mereka mampu menunjukkan komitmen politik yang berkelanjutan, mempertahankan kerja sama praktis, dan mencegah munculnya persepsi bahwa kelompok ini sedang memasuki kebuntuan strategis," kata Joseph Kristanto.
Fokus utama kini tertuju pada efektivitas diplomasi Marco Rubio selama menjalankan misi di India. Keberlanjutan koordinasi praktis menjadi indikator penting bagi masa depan stabilitas pertahanan di Indo-Pasifik.
"Masa depan Quad kemungkinan tidak bergantung pada persatuan sempurna antaranggota, melainkan pada kemampuan mereka untuk mempertahankan kerja sama meski memiliki perbedaan," kata Joseph Kristanto.