IHSG Ditutup Amblas 1,23 Persen ke Level 6.130 dan Rupiah Sentuh Rekor Terendah

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada perdagangan Selasa (26/5/2026). Dikutip dari Bloombergtechnoz, indeks saham domestik amblas sebesar 1,23% dan parkir di posisi 6.130 akibat tekanan jual pada saham-saham berbobot besar.

Sepanjang hari, pergerakan IHSG konsisten tertahan di zona merah dengan koreksi yang semakin dalam. Tercatat pergerakan indeks bergerak pada rentang batas atas di level 6.286 hingga menyentuh titik terendah pada area 6.124.

Phintraco Sekuritas memaparkan bahwa kemerosotan performa IHSG dipicu oleh aksi ambil untung investor menjelang libur bursa Hari Raya Iduladha 1447 H. Selain itu, sentimen penataan ulang portofolio atau rebalancing indeks MSCI turut memperberat pergerakan pasar modal.

Kondisi ini diperparah oleh nilai tukar rupiah di pasar spot yang ditutup melemah 0,26% ke level Rp17.789/US$ berdasarkan data Bloomberg. Penurunan nilai mata uang domestik tersebut menyumbang sentimen negatif yang cukup kuat ke pasar saham.

Berdasarkan data kompilasi Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi harian hari ini menembus Rp18,09 triliun. Total volume saham yang diperdagangkan mencapai 24,88 miliar unit saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,96 juta kali.

Secara keseluruhan, pergerakan pasar saham didominasi oleh tren penurunan. Data bursa menunjukkan hanya ada 241 saham yang bergerak menguat, sementara 447 saham terkoreksi, dan 133 saham lainnya posisinya tidak berubah.

Sektor industri, saham konsumen nonprimer, serta properti mencatat kejatuhan paling dalam. Masing-masing sektor tersebut mengalami kemerosotan hingga minus 3,37%, 2,2%, dan 2,14%.

Pelemahan IHSG didominasi oleh penurunan harga saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang masuk dalam jajaran top losers, di antaranya:

Daftar 10 Saham Big Caps Pemberat IHSG (26 Mei 2026)
No Nama Emiten (Kode Saham) Pengurangan Poin Terhadap Indeks
1 Astra International (ASII) 19,04 poin
2 Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 15,75 poin
3 Bank Central Asia (BBCA) 11,76 poin
4 Bank Mandiri (BMRI) 7,07 poin
5 Dian Swastatika Sentosa (DSSA) 4,25 poin
6 Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) 4,04 poin
7 Merdeka Copper Gold (MDKA) 3,42 poin
8 Vale Indonesia (INCO) 2,83 poin
9 MNC Digital Entertainment (MSIN) 2,82 poin
10 Aneka Tambang (ANTM) 2,07 poin

Sejumlah saham unggulan yang masuk dalam indeks LQ45 juga ikut menahan laju indeks. Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) merosot 5,71%, diikuti saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang jatuh 4,04%, dan saham PT XLSmart Tbk (EXCL) terpangkas 3,82%.

Tekanan bertambah seiring penurunan performa saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) sebesar 3,61%. Emiten lain seperti PT Indofood CBP Tbk (ICBP) berkurang 3,17% dan PT United Tractors Tbk (UNTR) ikut melemah 3,15%.

Situasi di pasar modal dalam negeri ini berbanding terbalik dengan kondisi regional Asia. Beberapa bursa saham di Asia justru bergerak menguat, seperti indeks KOSPI dan KOSDAQ di Korea Selatan, CSI 300 di China, serta SETI di Thailand.

Di sisi lain, depresiasi mata uang rupiah yang menyentuh level All Time Low (ATL) menjadi beban berat bagi pasar finansial. Rupiah bahkan sempat tergerus hingga level Rp17.795/US$ secara intraday perdagangan sebelum akhirnya ditutup pada posisi Rp17.789/US$.

Tekanan eksternal dan internal terus membayangi nilai tukar, meskipun Bank Indonesia (BI) telah bersikap agresif. Otoritas moneter terpantau menaikkan suku bunga acuan BI Rate melampaui prediksi pasar ke level 5,25%.

Memburuknya persepsi investor terhadap fundamental ekonomi nasional menjadi faktor utama pelemahan rupiah setelah rilisnya beberapa data makroekonomi. Sentimen ini membuat daya tarik pasar obligasi Indonesia meredup di mata pelaku pasar global.

Investor global melihat adanya peningkatan risiko di dalam negeri yang dipicu oleh kekhawatiran atas melebarnya defisit transaksi berjalan. Tekanan pada pos fiskal serta ketidakpastian arah pembiayaan anggaran pemerintah di masa depan turut menjadi perhatian serius.

Berdasarkan analisis dari Panin Sekuritas, aksi jual berskala besar di pasar keuangan saat ini dipicu oleh tiga fokus utama investor. Pertama, proses sosialisasi regulasi baru mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang dinilai masih memiliki ketidakpastian teknis bagi perusahaan.

Kedua, sentimen negatif datang dari pernyataan menteri koordinator terkait rencana penutupan gerai ritel modern yang langsung memicu koreksi pada saham AMRT. Ketiga, pasar mengantisipasi potensi dana keluar (outflow) menjelang pemberlakuan efektif indeks MSCI pada 29 Mei mendatang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author