INDEF Tekankan Transformasi Ekonomi Nasional Menjelang HUT RI Ke 81
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik J Rachbini menekankan pentingnya transformasi struktur ekonomi Indonesia menjelang HUT RI ke-81 pada Sabtu (15/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Didik menyebutkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam memajukan kesejahteraan umum yang adil dan setara dengan negara-negara lain, sehingga perubahan struktur ekonomi nasional menjadi prioritas mendesak.
"Sudah ada kemajuan yang berarti dalam mencapai tujuan kesejahteraan umum tetapi masih jauh dari adil dan setara dengan negara-negara lain," ungkap Didik dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (15/8/2026).
Perekonomian Indonesia tercatat sempat terpuruk pada 1998 dengan pendapatan US$ 455 per kapita sebelum akhirnya ditangani B. J. Habibie hingga berhasil menekan nilai tukar Dolar AS dari Rp 16.400 menjadi Rp 6.500.
"Di balik kemajuan tersebut, Indonesia ternyata masih belum setera dengan negara lain yang berkembang bersama dalam 4-5 dekade terakhir ini," jelasnya.
Ia mencontohkan pendapatan Korea Selatan yang melesat 7 kali lipat dibanding Indonesia dalam 50 tahun terakhir, sementara data LPEM FEB UI menunjukkan 8,5 juta orang kelas menengah Indonesia terdegradasi menjadi kelompok miskin.
"Ini merupakan pertanda bahwa kesejahteraan golongan menengah dan bawah masih menjadi masalah besar di negeri ini," tegasnya.
Penurunan daya tahan masyarakat tercermin dari kelompok penabung di bawah Rp 100 juta yang nilainya tergerus, berbeda dengan pemilik akun di atas Rp 5 miliar yang melonjak dari 8.500 menjadi 129 ribu orang.
"Meskipun selama kemerdekaan ini cukup banyak kemajuan, namun Presiden Prabowo berdiri sebagai pemimpin dalam kondisi tidak ideal. Ketika kelas menengah turun dan ketika tabungan masyarakat tergerus, maka daya tahan terhadap guncangan ekonomi menurun; konsumsi barang tahan lama ditunda; investasi pendidikan dan kesehatan keluarga dikurangi," ungkapnya.
Didik menyarankan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk merestrukturisasi perekonomian agar tidak didominasi oleh kelompok pengusaha besar semata.
"Presiden Prabowo sepanjang saya dengar pidatonya berkali-kali Indonesia dikuasai konglomerasi dan kredit bank menjadi kasir pengusaha besar. Karena itu, struktur ekonomi ini harus ditransformasikan dari struktur ekonomi segitiga yang berpucuk ke atas menjadi struktur ekonomi belah ketupat dimana porsi tengah dan kelas menengahnya kuat," jelasnya.
Penguatan sektor perdagangan luar negeri juga dinilai menjadi kunci utama untuk meningkatkan daya saing nasional agar tidak tertinggal jauh dari negara tetangga seperti Vietnam.
"Indonesia dalam hal ini, yaitu perdagangan luar negeri, sudah kalah jauh dengan Vietnam. Ini yang harus dikejar untuk mengajar pertumbuhan 6-7%," pungkasnya.