Menteri Kebudayaan Instruksikan Sosialisasi Masif Aksara Nusantara
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia menginstruksikan sosialisasi masif Aksara Nusantara kepada masyarakat luas pada 12 Agustus 2026. Langkah strategis ini bertujuan untuk menyatukan identitas visual dan budaya bangsa melalui perumusan sistem tulisan nasional baru berbasis ilmiah, seperti dilansir dari Detik Travel. Pengembangan sistem tulisan ini berawal dari arahan resmi Menteri Kebudayaan kepada Keraton Majapahit Jakarta pada 11 Januari 2025.
Pemerintah kemudian melantik Pangeran Cevi Yusuf Isnendar sebagai Raja Warisan Budaya di wilayah Banjar, Kalimantan, dengan gelar Sultan Yusuf Isnendar Al-Banjari pada 6 Mei 2025 untuk memimpin perumusan aksara tersebut. Tim khusus lalu merancang sistem aksara dan menggelar uji coba keterbacaan pada Juni 2025 dengan melibatkan 20 guru serta pegiat aksara. Proses penyempurnaan rancangan tersebut memakan waktu satu tahun hingga siap disosialisasikan secara meluas.
Perumusan Aksara Nusantara menerapkan tiga pilar ilmiah utama, yakni filologi untuk menggali manuskrip kuno, linguistik untuk memastikan konsistensi fonetik, serta sistem karakter abugida. Pendekatan ini menggabungkan nilai estetika sejarah lokal dengan kemudahan penggunaan bagi masyarakat modern.
Proyek kebudayaan ini melibatkan kolaborasi akademisi dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Diponegoro, dan UIN Alauddin. Kerja sama tersebut diperkuat oleh dukungan para mahasiswa pegiat aksara dari berbagai daerah di Indonesia. Saat ini, Aksara Nusantara telah terdigitalisasi penuh dan siap digunakan pada perangkat komputer serta laptop. Sementara itu, pengembangan sistem ketik dan pembacaan teks untuk perangkat gawai seperti ponsel pintar dan tablet masih menjalani proses finalisasi.