Dosen UGM Kembangkan Gama Abilawa Alat Perebah Sapi Kurban Efektif

Share

Proses merebahkan hewan kurban berukuran besar seperti sapi kerap kali memerlukan tenaga banyak orang dan waktu yang lama. Inovasi teknologi dari akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) kini hadir untuk membuat proses pemotongan tersebut menjadi jauh lebih efisien dan aman.

Metode konvensional yang mengandalkan bambu atau tali temali sering kali membuat sapi terhempas secara kasar ke tanah. Hal ini memicu cedera dan stres tinggi pada hewan sebelum disembelih.

Kondisi tersebut mendorong tim dosen Fakultas Peternakan (Fapet) UGM yang dipimpin oleh Prof Ir Panjono, SPt, MP, PhD, untuk menciptakan portable restraining box bernama Gama Abilawa. Inovasi ini dirancang agar proses penanganan hewan kurban menjadi lebih humanis.

"Pengerjaannya lebih mudah dan ternaknya lebih nyaman," ujarnya kepada detikEdu, Selasa (26/6/2026).

Restraining box merupakan sarana penunjang yang berfungsi merobohkan sapi secara aman di tempat pemotongan hewan. Seperti dilansir dari Detikcom, alat modern ini masih jarang dimiliki atau diketahui oleh panitia kurban di tingkat masyarakat.

Ketiadaan fasilitas memadai ini sering kali memicu insiden sapi mengamuk sebelum disembelih, yang berisiko mencederai para petugas. Penggunaan alat portabel ini memberikan solusi praktis agar hewan tetap tenang menjelang proses eksekusi.

Durasi penyembelihan menggunakan fasilitas ini berlangsung sangat cepat, yakni hanya memakan waktu sekitar 3 menit. Petugas cukup memasukkan sapi ke dalam kotak, mengunci pintu, lalu memutarnya secara manual hingga posisi hewan pas untuk disembelih.

Gama Abilawa sendiri sudah diinisiasi oleh tim dosen Fapet UGM sejak tahun 2019. Proses penyempurnaan rancangan alat ini terus berjalan hingga sekarang dengan menyesuaikan umpan balik dan evaluasi di lapangan.

Riset internal tim menunjukkan bahwa implementasi boks portabel ini mampu memangkas waktu pemotongan hingga 52,5 persen. Keunggulan lainnya adalah pengurangan drastis jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses penanganan hewan.

"Jika sebelumnya proses perebahan dan penanganan sapi memerlukan banyak orang, kini cukup ditangani sekitar lima personel dengan risiko yang lebih rendah," ujar Prof Panjono.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa portable restraining box mampu meningkatkan efisiensi proses pemotongan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ternak. Tingkat stres sapi dapat ditekan sehingga kualitas daging menjadi lebih terjamin," imbuhnya.

Prof Panjono menyadari mayoritas masyarakat masih mempraktikkan metode tradisional. Hal ini umumnya terjadi karena kurangnya edukasi mengenai opsi peralatan modern yang mempermudah kerja sekaligus menjaga kesejahteraan hewan.

Faktor lain yang memengaruhi lambatnya adopsi alat ini adalah perbedaan sudut pandang masyarakat mengenai konsep kesejahteraan ternak, serta keterbatasan anggaran untuk pembuatan unit.

Meski menghadapi kendala adopsi skala luas, prototipe Gama Abilawa konsisten dimanfaatkan setiap musim kurban. Sejumlah kelompok panitia bahkan mulai menduplikasi sistem mekanis alat ini secara mandiri.

"Hampir setiap tahun ada panitia yang meminjam. Beberapa yang lain melihat dan mengamati, kemudian membuat sendiri sesuai kebutuhan masing-masing," pungkasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author