Mitigasi Karhutla Diperkuat Antisipasi El Nino Sangat Kuat
Langkah mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini makin diperketat oleh pemerintah menyusul ancaman fenomena El Nino yang kian ekstrem, seperti dilansir dari Detik Travel.
Data BMKG mencatat indeks Nino 3.4 telah menyentuh +2,19 yang menandakan El Nino berada pada tingkat sangat kuat. Fenomena ini memicu suhu permukaan air laut Pasifik memanas sehingga curah hujan di Indonesia berkurang drastis.
Risiko kekeringan berpotensi semakin memburuk lantaran fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi memasuki fase positif mulai September hingga November 2026.
Dampak cuaca panas ekstrem bahkan sudah menaikkan suhu udara hingga 38 derajat celsius di sejumlah daerah. Kondisi yang berlangsung lebih lama ini memicu munculnya titik asap yang sudah terpantau melalui citra satelit di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Papua Selatan.
Ancaman iklim tahun ini dinilai memiliki tingkat kerawanan yang melampaui kondisi pada 2015 silam.
"Kewaspadaan semua pihak menjadi penting untuk mencegah karhutla, terutama ketika kondisi iklim tahun ini berpotensi lebih kering dan panas dibandingkan periode normal," kata Menhut Raja Juli Antoni dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta seperti dikutip Antara, Rabu (19/8/2026).
Menteri Kehutanan menegaskan bahwa koordinasi intensif bersama BMKG terus berlangsung guna memantau pergerakan suhu udara dan titik panas setiap hari.
"Per hari ini lebih tinggi dari 2015. Ini data dari BMKG yang kami selalu koordinasi. Sampai pagi ini saya terus berkoordinasi dengan BMKG," kata dia.
Imbauan keras juga disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat dan pihak swasta agar menghindari aktivitas pembakaran lahan dalam kondisi cuaca yang sangat rentan ini.
"Jangan membakar lahan. Masyarakat dan korporasi harus sama-sama waspada. Bahkan puntung rokok pun jangan sampai dibuang sembarangan, karena dalam kondisi kering seperti ini bisa menjadi sumber api," kata dia.