Review The End of Oak Street Sajikan Teror Dinosaurus Bertema Suburban
Sutradara David Robert Mitchell meluncurkan karya terbarunya berjudul The End of Oak Street. Karya orisinal ini hadir sebagai tontonan musim panas berdurasi 99 menit yang dibintangi jajaran aktor papan atas Hollywood, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Cerita berfokus pada keluarga Platt yang tinggal di kawasan suburban Amerika.
Greg Platt (Ewan McGregor) baru saja kehilangan pekerjaan dan terpaksa menjadi pengantar pizza secara rahasia. Sementara itu, sang istri Denise Platt (Anne Hathaway) sibuk menulis novel tentang keinginan meninggalkan keluarganya. Anak sulung mereka, Audrey (Maisy Stella), terobsesi dengan ilmuwan Carl Sagan serta memimpikan bangku kuliah di tengah keretakan hubungan orang tuanya.
Di sisi lain, sang adik Brian (Christian Convery) menghadapi tantangan khas remaja mulai dari urusan asmara hingga gangguan teman sebaya.
Keanehan mulai muncul saat tanaman langka yang telah punah mendadak tumbuh di pekarangan rumah tetangga. Gejala alam makin tak terkendali ketika kilatan cahaya putih misterius hadir pada malam hari hingga mengganggu anjing peliharaan mereka.
Puncak peristiwa ajaib terjadi sewaktu seluruh kawasan permukiman mereka terlempar ke zaman purba. Keluarga Platt mendadak harus bertahan hidup dari ancaman berbagai spesies binatang purba yang mengincar manusia sebagai mangsa. Film ini mengusung pendekatan visual yang menyerupai gaya pengadegan Steven Spielberg era 1880-an dan 1990-an. Atmosfer nostalgia tersebut diperkuat oleh tata musik garapan komposer Michael Giacchino.
Kerja sama Mitchell dengan sinematografer Michael Giolakis menghasilkan permainan visual yang efektif. Penonton diajak merasakan ketegangan lewat bayangan sekelebat dinosaurus hingga penggunaan teknik shot split diopter pada ruang tertutup.
Variasi Teror Monster dan Unsur Komedi
Berbagai ancaman bentuk hewan purba siap meneror keluarga Platt, mulai dari reptil berukuran standar hingga perwujudan ular raksasa. Meski tak menyajikan adegan ikonis ala adegan dapur Jurassic Park, sajian aksinya tetap intens.
Di balik ketegangan tersebut, Mitchell menyisipkan penyegaran humor yang mengejutkan. Pendekatan adegan dinosaurus ini menghadirkan nuansa berbeda yang jarang ditemui pada waralaba bertema purba lainnya.
Kekurangan film ini terletak pada eksplorasi dinamika hubungan Denise dan Greg yang terkesan buru-buru. Kendati penyelesaian konflik terasa serba cepat, hal itu tidak mengurangi keseruan film yang sejak awal berfokus memberikan hiburan bagi penonton.