Beban Tas Sekolah Anak Melebihi Standar Internasional Picu Gangguan Tulang

Share

Beban tas sekolah yang dibawa siswa saat ini menjadi perhatian serius karena dinilai telah melewati ambang batas aman yang direkomendasikan secara internasional.

Penggunaan tas yang terlalu berat untuk menampung buku pelajaran dan peralatan sekolah ini dapat memengaruhi postur tubuh serta mengancam kesehatan fisik anak.

Dikutip dari HaiBunda, Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Sarjoko, M.M, mengungkapkan bahwa berat tas yang dibawa peserta didik sekarang hampir menyentuh angka 20 persen dari berat badan mereka.

"Menurut standar internasional, beban tas sekolah tidak boleh melebihi 10 hingga 15 persen berat badan anak. Tapi, faktanya saat ini sudah mencapai hampir 20 persen dari berat badan siswa," kata Sarjoko dalam acara Acara Education, Ergonomics & Innovation Symposium 2026 di kawasan Jakarta Pusat, belum lama ini.

Sarjoko menjelaskan bahwa kondisi ini berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan, mulai dari nyeri pada area bahu dan punggung, hingga menjadi ancaman nyata bagi fase pertumbuhan tulang anak.

"Kalau dilihat dari studi literatur, mungkin beban-beban tas yang dibawa oleh para siswa ini sebenarnya tidak baik atau dari aspek kesehatan memang akan berdampak buruk," ungkap Sarjoko.

"Ini akan menjadi ancaman bagi pertumbuhan tulang belakang dari peserta didik," sambungnya.

Masalah ergonomi fisik di lingkungan sekolah ini juga disebut dapat memengaruhi kenyamanan siswa yang pada akhirnya berdampak pada kelancaran proses belajar mengajar.

"Hingga kini, masih ada gap besar yang belum tersentuh berkaitan dengan ergonomi fisik anak di sekolah," ungkap Sarjoko.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan menyatakan komitmennya untuk membenahi ekosistem pendidikan agar lebih aman dan nyaman, termasuk menyiapkan langkah intervensi terkait standarisasi tas sekolah.

"Ini muncul sebuah pemikiran yang baru, sebuah terobosan bagaimana ada intervensi terkait dengan ergonomi dan kaitannya dengan beban tas yang akan dibawa oleh setiap siswa. Selama ini memang kita belum memberikan perhatian yang serius terhadap ini. Padahal, kenyamanan dan keamanan siswa pasti akan akan lebih tertunjang dengan adanya intervensi yang kaitannya dengan ergonomi ini," kata Sarjoko.

Langkah kebijakan intervensi secara nyata tersebut nantinya akan dirumuskan setelah Dinas Pendidikan DKI Jakarta mendapatkan hasil riset yang komprehensif mengenai beban punggung siswa.

"Prinsipnya kita punya komitmen untuk menciptakan sekolah yang betul-betul nyaman dan aman. Nyaman dan aman ini adalah bagaimana kita membangun sebuah ekosistem di mana siswa betul-betul bisa tumbuh dan berkembang secara maksimal di lingkungan sekolah masing-masing," ujar Sarjoko.

"Selanjutnya, ini akan dilakukan sebuah riset ya, bagaimana yang terbaik untuk para siswa dan kaitannya dengan tas sekolah, karena ini juga kaitannya dengan beban pada punggung siswa. Jadi kita belum mengintervensi secara nyata, tapi ini kita menunggu hasil risetnya seperti apa," pungkasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author