Psikolog Ungkap Cara Mengenalkan Makna Kemerdekaan pada Anak

Share

Momen peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia menjadi waktu ideal untuk menanamkan pemahaman arti kemerdekaan secara utuh kepada anak. Psikolog pendidikan Orissa Anggita Rinjani menjelaskan bahwa anak usia sekolah dasar hingga menengah pertama sudah memiliki kemampuan kognitif yang memadai untuk berdiskusi topik ini.

Seperti dilansir dari HaiBunda, orang tua dapat menyampaikan beberapa poin penting untuk membantu Si Kecil memahami makna kemerdekaan secara mendalam.

Langkah awal yang perlu disampaikan adalah arti kemerdekaan itu sendiri. Merdeka berarti kebebasan memperoleh hak dan menentukan pilihan tanpa paksaan pihak lain. Perwujudan merdeka pada masa perjuangan berupa perang melawan penjajah, sementara masa kini memiliki bentuk yang berbeda.

"Kalau merdeka sebagai anak atau murid bisa dikaitkan dengan kebebasan menentukan cita-cita tanpa paksaan dari orang tua," ujar wanita yang akrab disapa Ori tersebut saat berbincang dengan HaiBunda.

Menumbuhkan Rasa Cinta Tanah Air

Pengenalan kemerdekaan juga dapat dilakukan dengan memaparkan keunikan serta kekayaan Indonesia. Orang tua bisa mengenalkan ragam adat istiadat, suku, ras, budaya, hingga bentang alam seperti gunung dan persawahan agar anak memahami pesona negerinya.

Membedah Makna Lagu Kebangsaan

Menyanyikan lagu-lagu kebangsaan bersama anak dapat menjadi sarana edukasi secara tidak langsung. Di sela aktivitas bernyanyi, orang tua bisa mengajak anak membedah pesan tersirat yang ada di dalam lirik lagu tersebut.

Mengeksplorasi Jiwa Kepahlawanan

Makna pahlawan perlu direfleksikan sesuai konteks zaman. Jika dahulu pahlawan mengorbankan diri demi kemerdekaan bangsa, kini kepahlawanan berkaitan dengan kontribusi nyata untuk negara.

"Kita bisa jelaskan itu dapat dilakukan dengan belajar sebaik-baiknya di bidang yang diminati dan menjadi wakil negara, misal menjadi atlet nasional dan bertanding di Asian Games dan semacamnya," tutur Ori.

Menanamkan Toleransi Melalui Interaksi

Selain pemahaman pahlawan, pengenalan toleransi terhadap keberagaman suku dan agama juga sangat krusial. Pendidik dan psikolog Najelaa Shihab menilai toleransi tumbuh dari pengalaman berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda latar belakang.

"Pengalaman seringkali enggak muncul karena situasi kita di lingkungan warga pun sifatnya homogen, masuk sekolah yang terjadi standarisasi. Jadi bertemu orang yang sama saja," kata wanita yang akrab disapa Ela tersebut.

Ela menyarankan agar orang tua menciptakan pengalaman inklusif, seperti bertemu keluarga bereputasi beda atau mengikuti kegiatan di luar sekolah. Sikap dan ucapan orang tua di rumah juga menjadi teladan utama dalam membentuk persepsi anak terhadap perbedaan.

"Seringkali tanpa disadari justru ucapan dan komentar orang tua itu sifatnya mengkotak-kotakan dan enggak inklusif. Padahal itu jadi nilai-nilai yang tumbuh pada anak kita," ujar Ela.

Meskipun menghadapi perbedaan tidak selalu terasa nyaman, latihan yang konsisten akan membantu anak memahami bahwa keberagaman justru dapat saling menguatkan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author