AS Putuskan Rotasi Kapal Induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah
Pemerintah Amerika Serikat bersiap mengganti kapal induk USS Abraham Lincoln dengan USS George Washington di kawasan Timur Tengah pada pertengahan Agustus 2026. Langkah rotasi penugasan militer ini dilakukan di tengah gelombang kritik terkait penurunan kondisi hidup serta kesehatan mental para personel setelah berlayar lebih dari 250 hari tanpa henti.
Sorotan publik memuncak setelah muncul laporan mengenai krisis sanitasi, keterbatasan pasokan makanan, gangguan pengiriman surat, hingga krisis kesehatan mental prajurit. Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat mendesak dilakukannya penyelidikan menyeluruh, sementara laporan mengenai upaya bunuh diri pelaut sempat memicu kontroversi sebelum dibantah oleh komando militer AS.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis kekhawatiran publik mengenai situasi para personel militer yang bertugas di atas kapal induk tersebut.
"Tidak, mereka tidak khawatir," kata Trump saat ditanya wartawan mengenai kecemasan keluarga awak kapal.
Trump juga menolak anggapan bahwa pengerahan USS Abraham Lincoln di kawasan konflik Timur Tengah sudah melewati batas wajar.
"Tidak, tidak, tidak, justru belum cukup lama," ujarnya.
Ia membenarkan rencana pergantian kapal induk yang sedang beroperasi menghadapi krisis dengan Iran tersebut.
"Kapal itu sedang bergerak sekarang atau akan segera bergerak, dan akan digantikan oleh kapal lain yang sangat mirip," kata Trump.
Di sisi lain, Anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat AS Richard Blumenthal menyurati pejabat pertahanan untuk menyoroti berbagai masalah teknis dan logistik di atas kapal.
"Telah ada laporan luas mengenai kekurangan pasokan dasar, kontaminasi air, masalah saluran pembuangan, memburuknya kesehatan mental, persoalan keselamatan di dek kapal, serta gangguan sistem surat yang menyebabkan banyak paket kiriman untuk awak kapal hilang dalam perjalanan selama berbulan-bulan," tulis Blumenthal.
Sementara itu, Anggota DPR AS Marlin Stutzman mengaitkan isu kondisi prajurit dengan tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kesejahteraan pasukan.
"Pada akhirnya, kita tahu bahwa mereka yang bertugas harus merasa tenang karena mengetahui bahwa mereka dirawat dan diperhatikan dengan baik," kata Stutzman.
Pertanyaan serupa diajukan oleh empat anggota DPR AS, yakni Mike Levin, Sara Jacobs, Scott Peters, dan Juan Vargas melalui surat terbuka kepada Departemen Pertahanan AS.
"Kami perlu informasi yang jelas dan jujur dari Kementerian Pertahanan yang menyebabkan masalah di atas USS Lincoln untuk memastikan hal ini tak pernah terjadi lagi," demikian surat itu.
Legislator tersebut melayangkan beberapa pertanyaan kritis terkait penanganan fasilitas dan komunikasi di kapal induk.
"Mengapa kondisi tak higienis tak segera ditangani? Mengapa para anggota militer tak menerima dukungan kesehatan mental yang memadai? Mengapa Angkatan Laut tidak mengkomunikasikan masalah-masalah ini sejak dini dan secara berkala kepada keluarga dan pejabat pemerintah yang berwenang?" lanjut isi surat tersebut.
Atas kondisi yang terjadi, Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer mendesak tindakan tegas terhadap pimpinan Departemen Pertahanan AS.
"Ketika Pete Hegseth dinominasikan, semua orang tahu dia sama sekali tidak kompeten," kata Schumer.
Schumer menilai penanganan krisis di atas kapal induk telah merugikan para prajurit yang sedang bertugas.
"Sekarang para pelaut pemberani kita membayar harganya dengan cara yang mengerikan dan tak terbayangkan. Pete Hegseth harus segera dipecat," imbuh Schumer.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membantah seluruh tuduhan mengenai kelalaian penanganan fasilitas dan logistik militer di atas kapal induk.
"Kami memastikan setiap kapal, setiap awak, dan setiap komandan kapal mendapatkan segala sesuatu yang bisa kami berikan setiap saat," tegas Hegseth.
Komando Pusat AS (CENTCOM) turut memberikan klarifikasi terkait rumor perkelahian maut dan isu peningkatan percobaan bunuh diri di atas kapal.
"Selama 48 jam terakhir, berbagai media telah melaporkan beberapa klaim palsu terkait penempatan USS Abraham Lincoln (CVN 72) ke Timur Tengah. Satu laporan menuduh tujuh pelaut tewas dalam perkelahian di atas kapal induk dan laporan lain baru-baru ini, menyebutkan adanya peningkatan niat bunuh diri. Laporan-laporan ini SALAH," tulis CENTCOM.
CENTCOM menegaskan bahwa kesiapan tempur dan ketahanan para prajurit di kapal induk masih berada pada tingkat yang sangat tinggi.
"USS Abraham Lincoln mempertahankan salah satu tingkat perpanjangan masa tugas awak kapal tertinggi (84,4%) di antara semua kapal induk di Angkatan Laut AS. Para pelaut dan marinir dari Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln tetap tangguh dan gigih setelah lebih dari 260 hari di laut, 10.000 penerbangan pesawat, dan 1,5 juta pon amunisi yang digunakan," imbuh CENTCOM.
Pihak militer mengonfirmasi satu insiden kecelakaan kerja di mana seorang pelaut jatuh ke laut pada 3 Agustus 2026, namun korban berhasil diselamatkan dengan cepat.
"Tidak ada anggota militer di atas kapal induk yang meninggal, dan satu pelaut yang jatuh ke laut pada 3 Agustus dengan cepat dan aman telah diselamatkan. Pemberitaan yang salah tentang penempatan bersejarah Abraham Lincoln merugikan para prajurit kita dan orang-orang yang mereka cintai," imbuh CENTCOM.
Pengamat militer dari Hudson Institute Bryan Clark menilai pengerahan pengganti USS George Washington dari Pasifik menuju Timur Tengah akan memicu kekosongan armada AS di kawasan Asia-Pasifik.
"Biasanya George Washington melakukan patroli, menunjukkan kehadiran, serta memperlihatkan komitmen dan dukungan kami kepada negara-negara seperti Filipina dan Jepang. Kami akan kehilangan berbagai peluang strategis untuk memengaruhi hubungan dengan negara-negara di kawasan tersebut," kata Clark.
USS George Washington yang dilaporkan telah melintasi Selat Malaka diperkirakan membutuhkan waktu untuk tiba di posisi operasional penuh, sementara pemulihan kesiapan armada Angkatan Laut AS secara menyeluruh diproyeksikan memakan waktu hingga tiga tahun.