Como 1907 Segel Tiket Liga Champions Lewat Strategi Moneyball

Share

Keberhasilan luar biasa dicatatkan oleh Como 1907 yang sukses menembus kompetisi Liga Champions hanya dalam waktu dua tahun. Prestasi bersejarah ini dipastikan setelah tim asuhan Cesc Fabregas menyegel posisi keempat pada klasemen akhir Serie A 2025/2026, seperti dikutip dari Bola.

Klub yang mayoritas sahamnya dikuasai oleh Grup Djarum ini sebelumnya baru saja promosi ke kasta tertinggi Liga Italia pada musim 2024/2025 dengan status runner-up Serie B. Ketangguhan I Lariani dalam bersaing di Serie A hingga melaju ke Eropa tidak lepas dari kepemimpinan sang El Presidente, Mirwan Suwarso.

Melalui kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, Mirwan Suwarso mengungkapkan bahwa pembenahan di dalam tubuh Como 1907 melibatkan Billy Beane. Sosok tersebut merupakan mantan pemain dan manajer tim bisbol Oakland Athletics yang mengonseptualisasikan metode moneyball.

Metode moneyball berfokus pada analisis data serta statistik mendalam sebelum manajemen memutuskan untuk merekrut seorang pemain. Pendekatan ilmiah inilah yang menjadi pilar utama dalam membangun kekuatan skuad Como 1907.

"Kami enggak memikirkan. Kami benar-benar di sini cuma, ya, setiap pertandingan kami take it by day. Kami enggak pernah memikirkan kalau kalah bagaimana, kalau menang bagaimana. Terpenting mainnya bagus atau enggak. Begitu saja," kata Mirwan.

"Dari awal kami memang sudah dari rekrutmennya semua pakai analisis dan data. Jadi prediksi kami untuk musim ini target posisi ketujuh. Itu yang realistis buat kami. Tahun lalu bisa dapat posisi 10," imbuh pria yang juga dikenal sebagai sutradara banyak film.

"Terterus kalau bisa naik turun di atas itu, ya itu yang kami bilang bisa overperforming atau underperforming."

Proses Mengadopsi Sistem Klub Dunia

Manajemen klub awalnya sempat menghadapi kendala saat ingin mempelajari formula dari pencipta moneyball tersebut. Billy Beane sempat menolak ajakan kerja sama pada awal pertemuan karena masih terikat komitmen dengan AC Milan.

"Oleh karena itu, gue memang sengaja cari Billy Beane yang main di film Moneyball untuk mempelajari sistemnya dia. Jadi, yang pertama saya ketemu dia, dan dia menolak kami, karena waktu itu dia kerja sama dengan AC Milan," tutur Mirwan.

"Tiga bulan setelah itu kami ketemu di sini, di Como. Ngobrol, terus datang ke salah satu pertandingan. Waktu itu melawan Bari, saya ingat di situ dia bilang, 'Kalau Anda me-running klub seperti ini, saya mau bekerja sama dengan Anda', seperti itu," pasar Mirwan seraya menambahkan ia juga bersua banyak pihak.

"Jadi waktu itu kami mulai kerja sama sama Billy Beane di Serie B, di pertengahan musim atau menjelang akhir tahun kedua mulai kami persiapkan. Setelah itu saya juga ketemu sama Tony Bloom yang punya Brighton."

"Dulu dia juga partner dengan pemilik Brentford, kemudian bermusuhan, mereka pecah. Kami juga kerja sama dengan dia. Jadi kami pakai sistem datanya Billy Beane, kami pakainya sistemnya Brighton."

"Kami juga ketemu sama timnya Liverpool. Kami pakai sistemnya Liverpool juga. Setelah kami menggunakan semuanya, baru saya membentuk tim sendiri, dan, ya namanya juga orang Indonesia, kami paling jago reverse engineer," kata Mirwan seraya tersenyum.

"Kami pelajari sistem mereka. Kami menggodok ulang, kami cari kelemahan apa, keunggulannya apa. Makanya kami kerja sama, kebetulan di Como juga ada Thierry Henry, ada Fabregas, ada Raphael Varane."

"Kami bisa me-recreate dan menginterpretasikan sistem yang akhirnya kami punya sendiri. Jadi kami menggunakan sistem data sebagai landasan untuk semua keputusan sepak bola kami," lanjutnya.

Sistem Como Dilirik Klub Eropa

Formulasi data yang dirancang oleh manajemen Como 1907 kini mulai menarik perhatian sepak bola internasional. Sistem terintegrasi milik mereka bahkan sudah mulai diterapkan oleh beberapa tim kontestan Liga Champions lainnya.

"Sekarang sistem kami sudah dipakai banyak klub lain. Jadi ada beberapa klub di Liga Champions sudah pakai punya sistem kami sekarang. Ada yang bayar, ada yang tukar pemain," ujar Mirwan.

"Aaduh, kenapa ya? Enggak tahu saya. Namun, kami memang jadi berteman sampai sekarang. Kemarin baru bertemu di London," tutup Mirwan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author