Volatilitas Bitcoin Sentuh Level Terendah dalam Sembilan Bulan Terakhir
Pasar aset kripto terus mengalami pergolakan yang menyeret volatilitas aset digital Bitcoin ke kisaran level terendah dalam sembilan bulan terakhir. Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Selasa (26/5/2026) siang, BTC mencoba bertahan di kisaran US$76.590 atau setara Rp1,36 miliar.
Arus perdagangan aset kripto paling berharga di dunia ini terpantau sepi seiring menjauhnya aspek spekulatif di pasar. Konsekuensi dari kondisi tersebut telah mengurangi permintaan investor atas opsi perlindungan.
Parameter Bitcoin Volmex Implied Volatility Index menunjukkan penurunan ke level 36,11 yang merupakan catatan terendah sejak September 2025. Angka ini juga mendekati level terendah yang pernah terjadi sejak tahun 2023.
Indeks Volmex tersebut mencerminkan volatilitas Bitcoin yang diperkirakan pasar dalam 30 hari ke depan. Data ini diperoleh secara real-time dari harga opsi kripto.
Pada saat yang sama, Bitcoin terus diperdagangkan di zona sekitar US$77.000 dan tampak kepayahan untuk menembus level US$80.000. Level pergerakan ini masih jauh dari capaian All Time High terakhir BTC pada Oktober lalu yang mencatat lebih dari US$126.000.
Instrumen investasi berbasis reksa dana dengan underlying Bitcoin atau ETF BTC spot di pasar Amerika Serikat juga mengalami arus keluar bersih. Nilai arus keluar tersebut mencapai sekitar US$1 miliar sejauh ini pada Mei 2026.
Pasar ETF Bitcoin Spot sekaligus membalikkan tren arus masuk bersih yang sempat terjadi selama dua bulan berturut-turut. Fenomena ini menambah tanda-tanda bahwa permintaan dari pihak investor kini telah mereda.
"Volatilitas Bitcoin mendekati level terendah sepanjang masa. Minat investor ritel dapat dimengerti beralih ke tempat lain untuk memanfaatkan peluang perdagangan lainnya, seperti yang juga terlihat dari data arus keluar ETF," kata Caroline Mauron.
Kondisi pasar kripto ini bertolak belakang dengan lonjakan yang lebih luas di seluruh aset berisiko. Saham di pasar Amerika Serikat melonjak menuju rekor tertinggi berkat harapan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik AS-Iran semakin dekat.
Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan dan pasar saham Taiwan juga telah menyentuh level tertinggi. Lonjakan di pasar Asia tersebut didorong oleh tingginya permintaan terhadap eksposur di sektor AI dan semikonduktor.
"Arus dana ETF memang negatif bagi Bitcoin, tetapi gambaran umum risiko secara keseluruhan positif bagi pasar, dan saya berkeyakinan bahwa dua faktor tersebut saling meniadakan," kata Damien Loh.
Strategi Penjualan Volatilitas
Volatilitas tersirat Bitcoin yang rendah mencerminkan pola berulang dalam siklus kali ini. Setiap kenaikan fluktuasi harga dengan cepat menarik penjual volatilitas, sehingga menekan premi opsi.
Rajiv Sawhney mengatakan penjualan volatilitas telah menjadi salah satu strategi perdagangan utama dalam beberapa bulan terakhir. Investor berulang kali masuk setelah lonjakan harga dan membuat penembusan harga menjadi lebih sulit dipertahankan.
"Bitcoin tidak memiliki imbal hasil inheren, sehingga bagi pemegang jangka panjang, penambang, investor negara, dan dana besar, menjual volatilitas telah menjadi cara untuk menghasilkan pendapatan dari kepemilikan mereka," katanya.
Latar belakang makro yang lebih luas juga turut membebani aktivitas Bitcoin. Uang spekulatif kini telah bergeser ke saham kecerdasan buatan dan memori, yang akhirnya menyisakan lebih sedikit uang panas di industri kripto.
Volume perdagangan yang lebih sepi biasanya menekan volatilitas yang direalisasikan. Hal tersebut pada gilirannya mendorong volatilitas tersirat menjadi lebih rendah.
Hingga Selasa siang, Bitcoin masih beredar pada kisaran US$76.616 dan sempat menyentuh titik terendah dalam 24 jam perdagangan pada US$76.451. Pergerakan di semua periode kompak memerah, bahkan sepanjang tahun 2026 secara year to date BTC mengalami kontraksi sebesar 12,5%.