Rupiah Melemah ke Rp17.803 per Dolar AS Jelang Libur Iduladha
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah hingga menyentuh level Rp17.803 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (26/5/2026) menjelang libur panjang Iduladha. Penurunan mata uang Garuda ini dipicu oleh tingginya indeks dolar AS serta tekanan sentimen ekonomi domestik.
Berdasarkan data Refinitiv dan Bloomberg, pergerakan rupiah sepanjang hari terus mengalami tekanan sejak dibuka stagnan di level Rp17.730 per dolar AS. Pelemahan ini juga sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia dan negara maju yang kompak memerah terhadap dolar AS.
Kondisi pasar spot tersebut mendorong sejumlah perbankan nasional mematok harga jual dolar AS yang tinggi. Data transaksi menunjukkan nilai jual valas di beberapa bank besar telah menembus angka di atas Rp18.000 per dolar AS.
Berikut adalah rincian perbandingan kurs beli dan kurs jual dolar AS di beberapa bank besar Indonesia berdasarkan kompilasi data pada Selasa (26/5/2026):
| Nama Bank | Kurs Beli (Rp) | Kurs Jual (Rp) |
|---|---|---|
| BCA | 17.585 | 17.835 |
| Bank Mandiri | 17.510 | 17.810 |
| BNI | 17.535 | 17.835 |
| BRI | 17.598 | 17.800 |
| BTN | 17.640 | 17.890 |
| CIMB Niaga | 17.780 | 17.795 |
| Bank Permata | 17.580 | 17.765 |
Faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah akibat konflik AS-Iran dan kebijakan suku bunga tinggi The Fed menjadi penyebab utama penguatan dolar global. Di sisi domestik, pelebaran defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 menjadi 4,01 miliar dolar AS turut memperlemah ketahanan eksternal Indonesia.
Pihak otoritas moneter dan para analis memberikan pandangan beragam terkait proyeksi dan dampak dari berlanjutnya tren depresiasi mata uang rupiah ini.
Perkembangan situasi pasar dan potensi pergerakan nilai tukar ke depan menjadi perhatian utama para pengamat keuangan domestik.
"Potensi masih melemah ke arah Rp 17.750-17.800," kata Ariston Tjendra, Presiden Direktur Doo Financial Futures.
Ia menambahkan bahwa permintaan valas di bulan Mei untuk keperluan repatriasi dividen memperkuat tekanan terhadap rupiah di samping melemahnya indeks harga saham.
"Di bulan Mei ini permintaan valas karena keperluan repatriasi dividen juga masih memberi tekanan ke rupiah," kata Ariston Tjendra.
Di sisi lain, analisis mengenai indikator makro global dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat juga diproyeksikan masih menekan pergerakan mata uang negara berkembang.
"Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan masih berada dalam tekanan di kisaran Rp17.750 – Rp17.800 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kuatnya dolar AS global seiring meningkatnya permintaan aset safe haven dan ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat yang diperkirakan bertahan lebih lama," kata Muhammad Amru Syifa, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX).
Ia juga menggarisbawahi bahwa penyusutan surplus perdagangan Indonesia menjadi 7,98 miliar dolar AS ikut mendongkrak permintaan dolar AS di pasar domestik.
"Kenaikan yield obligasi pemerintah AS serta tingginya volatilitas pasar global turut memberikan tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah," kata Muhammad Amru Syifa.
"Pelebaran defisit tersebut terjadi seiring menyusutnya surplus perdagangan Indonesia menjadi 7,98 miliar dolar AS dari sebelumnya 13,07 miliar dolar AS, di tengah perlambatan ekonomi global serta tingginya kebutuhan impor energi dan barang modal yang mendorong peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik," kata Muhammad Amru Syifa.
Sementara itu, pergerakan konsolidasi jangka pendek diperkirakan terjadi karena pelaku pasar global sedang mencermati respons diplomatik di Timur Tengah.
"Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi terhadap dolar AS. Investor wait and see menantikan respons Iran terhadap proposal damai AS yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat," kata Lukman Leong, Analis Mata Uang DOO Financial Futures.
Kekhawatiran terhadap dampak riil pelemahan kurs ke sektor industri manufaktur dalam negeri juga mulai disuarakan oleh pengamat pasar uang lainnya.
"Militer AS mengklaim serangan dilakukan untuk membela diri dan gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku. Namun, aksi militer baru ini berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.
Ia memproyeksikan industri yang bergantung pada bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi yang signifikan.
"Krisis kepercayaan yang berdampak terhadap krisis ekonomi mulai terlihat akibat pelemahan rupiah yang belum jelas sampai kapan akan terjadi. Kondisi ini meningkatkan biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor," kata Ibrahim Assuaibi.
Risiko pengurangan tenaga kerja dinilai berpotensi terjadi jika tekanan nilai tukar dan kenaikan harga energi global terus berlanjut.
"Potensi PHK di sektor formal industri dapat mencapai 9 ribu pekerja dalam tiga bulan ke depan," kata Ibrahim Assuaibi.
Sebelumnya, dalam menyikapi kebijakan pengetatan moneter, salah satu pejabat bank sentral AS mengisyaratkan kesiapan untuk mengambil langkah agresif jika diperlukan.
"Salah satu gubernur Bank Sentral Amerika yaitu Christopher Waller, dia mengatakan bahwa jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target, dia tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga. Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga," kata Ibrahim Assuaibi menirukan pernyataan Christopher Waller.
Ia menilai permasalahan defisit anggaran belanja negara juga masih menjadi beban psikologis bagi pergerakan pasar uang di dalam negeri.
"Walaupun harga minyak mengalami penurunan, tetapi rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah," kata Ibrahim Assuaibi.
Kebijakan satu pintu untuk ekspor komoditas yang direncanakan pemerintah turut menjadi perhatian karena memicu respons beragam dari para pelaku pasar.
"Kemudian yang ketiga, ya tentang kebijakan-kebijakan yang kurang pro ya terhadap pasar. Ya ini yang membuat kemungkinan besar rupiah ini masih akan terus mengalami pelemahan," kata Ibrahim Assuaibi.
"Bank Indonesia tidak terkecuali di pasar domestik, obligasi, dan surat utang negara; hanya dapat melakukannya di pasar internasional. Ini akan menyebabkan rupiah melemah sekali lagi," kata Ibrahim Assuaibi.
Meskipun tekanan saat ini dinilai cukup berat, Bank Indonesia menyatakan keyakinannya bahwa kondisi likuiditas perbankan nasional masih berada pada tingkat yang aman untuk mendukung perekonomian.
"If, for example, the interest rate increases, but liquidity is maintained, I do not think the increase will further burden (MSMEs)," kata Destry Damayanti, Senior Deputy Governor Bank Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia juga menegaskan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak menguat kembali sesuai dengan siklus historis tahunan pasca-periode permintaan valas yang tinggi berakhir.
"I don't want to be arrogant, but I happened to live through crisis after crisis. In 1997-1998, I was there. The global situation in 2008, the taper tantrum, was also like that. Covid as well; indeed, the exchange rate pressures generally tend to strengthen around July-August," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Ia menambahkan bahwa tingginya permintaan valas pada kuartal kedua merupakan faktor musiman akibat adanya kebutuhan ibadah haji, pembayaran utang, serta pembagian dividen perusahaan.
"April, May, June, the demand for foreign exchange is usually high. There are pilgrims, then dividends, and also debt payments," kata Perry Warjiyo.