Sikap Ayah Hadapi Anak Lakukan Bullying Tanpa Gunakan Kekerasan

Share

Menghadapi anak yang terbukti melakukan perundungan sering kali memicu emosi orang tua. Meski demikian, merespons situasi tersebut secara tenang dapat menjadi pendekatan yang lebih efektif ketimbang langsung memberikan hukuman fisik atau emosional.

Pengalaman ini dibagikan oleh seorang ayah melalui akun Reddit @u/Matt8992, sebagaimana dilansir dari HaiBunda. Saat mengetahui putranya yang berusia 11 tahun terlibat perundungan di sekolah, sang ayah memilih membuka ruang dialog.

Kecemasan sempat melanda sang anak karena berpotensi dipanggil ke ruang kepala sekolah. Melihat kondisi emosional putranya yang gelisah, sang ayah mengajak anaknya bicara di restoran cepat saji setelah sang anak berjanji untuk jujur.

Insiden tersebut bermula ketika sang anak menirukan ejekan bernuansa fisik yang ia tonton di YouTube. Lelucon tersebut dilontarkan saat makan siang di sekolah kepada seorang siswi hingga membuatnya sakit hati.

"Semua orang menganggapnya lucu kecuali gadis itu. Itu membuatnya kesal," tulis sang ayah.

Guna memberikan pemahaman yang tepat, sang ayah berkonsultasi dengan mantan istrinya. Langkah ini diambil untuk membantu putranya memahami dampak emosional perbuatan tersebut dari sudut pandang perempuan.

Melalui diskusi mendalam, sang ayah menanamkan pemahaman mengenai persetujuan, tanggung jawab, serta batas-batas dalam bersenda gurau. Pendekatan tersebut membuah hasil setelah sang anak akhirnya menyampaikan penyesalan.

"Dia mengirimkan pesan teks yang mengatakan bahwa dia menemukan lelucon itu di video YouTube, dan dia tidak mengarangnya. Dia memberi tahu bahwa itu tidak benar, seharusnya dia tidak mengatakannya, dan dia salah karena melakukannya," kata sang ayah.

Respons tenang yang ditunjukkan sang ayah mendapat perhatian dari pakar perkembangan anak di Amerika Serikat, Shkadron. Ia menjelaskan bahwa aksi perundungan pada usia pra-remaja berkaitan erat dengan perkembangan fungsi eksekutif dan kontrol impuls yang belum sempurna.

"Perundungan adalah dinamika sosial-emosional yang kompleks," kata Shkadron.

"Anak-anak terus berevolusi dan berkembang seiring mereka membangun kontrol penghambatan, memori kerja, dan fleksibilitas kognitif. Keterampilan menghambat impuls berasal dari kemampuan anak untuk mengatur keadaan emosional mereka," lanjutnya.

Shkadron menambahkan, anak-anak kerap bertindak spontan tanpa memikirkan persepsi maupun perasaan orang lain. Oleh karena itu, proses pembelajaran atas kesalahan membutuhkan pendampingan yang tepat dari orang tua.

Terkait mekanisme penyelesaian masalah, Shkadron mengingatkan pentingnya bentuk permintaan maaf yang berfokus pada pertanggungjawaban pelaku, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

"Mengatakan, 'Maaf karena telah menyakiti perasaanmu', sama saja dengan menyalahkan anak yang diintimidasi dan mengasumsikan apa yang dialami anak tersebut," kata Shkadron.

"Sebaliknya, orang tua diminta untuk mempertimbangkan peran permintaan maaf dan bagaimana permintaan maaf tersebut dapat disampaikan secara efektif. Permintaan maaf harus berfokus pada anak yang melakukan tindakan intimidasi. Hal ini berarti mengambil tanggung jawab tanpa mengharapkan imbalan apa pun dari permintaan maaf itu sendiri," sambungnya.

Selain memfasilitasi permintaan maaf, orang tua perlu menetapkan batasan yang tegas agar kejadian serupa tidak terulang. Penegakan konsekuensi harus berjalan selaras dengan kepastian kasih sayang orang tua.

"Dia takut ini akan mengubah hubungan kami. Saya memberi tahu dia bahwa dia adalah putra saya dan saya akan selalu mencintainya dan hubungan kami akan tetap sama. Saya memberi tahu dia bahwa dia telah melakukan kesalahan, dia akan menghadapi konsekuensinya, dan kita akan melanjutkan. Tetapi jika dia dengan sengaja melakukan ini lagi, maka percakapan kita akan jauh berbeda," tulis sang ayah dalam unggahannya.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: anak bullying parenting Pola Asuh
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author