BPS Jelaskan Penyebab Warga Berpenghasilan Rendah Masuk Desil 9 dan 10
Badan Pusat Statistik menjelaskan bahwa penetapan Desil 9 dan 10 pada data DTSEN tidak semata-mata ditentukan oleh besaran penghasilan, melainkan hasil pemeringkatan dari gabungan berbagai variabel kondisi sosial ekonomi keluarga.
Penjelasan tersebut disampaikan oleh pihak BPS Kota Cilegon menyusul ramainya perbincangan masyarakat di media sosial mengenai warga yang merasa berpenghasilan pas-pasan atau masih tinggal di rumah kontrakan namun tercatat dalam kelompok desil tinggi.
Pemeringkatan desil membagi seluruh populasi keluarga ke dalam 10 kelompok yang sama besar berdasarkan urutan kondisi sosial ekonomi. Penentuan posisi desil ini tidak menggunakan batas nominal penghasilan tunggal tertentu.
Pengukuran DTSEN memperhitungkan sejumlah variabel komprehensif, meliputi kondisi serta karakteristik perumahan, kepemilikan aset, demografi, tingkat pendidikan, status ketenagakerjaan, kepemilikan usaha, hingga kondisi kesehatan keluarga.
Variabel-variabel tersebut dinilai berdasarkan tingkat unit keluarga, bukan individu. Hal ini menyebabkan dua keluarga dengan tingkat penghasilan bulanan yang sama belum tentu berada pada tingkatan desil yang sama.
BPS mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai skema atau tabel di media sosial yang mengaitkan besaran gaji tertentu dengan tingkatan desil secara langsung.
Masyarakat yang menilai hasil pemeringkatan desil tidak sesuai dengan kondisi riil dapat mengajukan pembaruan data secara mandiri melalui menu Usulkan Pembaruan di aplikasi Cek Bansos atau melaporkan langsung ke kantor desa, kelurahan, dan Dinas Sosial setempat untuk diverifikasi ulang.