Xpeng Ungkap Tantangan Mobil Terbang Mengudara di Indonesia

Share

Imajinasi mengenai mobil terbang yang menghiasi langit masa depan seperti dalam film fantasi era 90-an masih belum terwujud secara massal hingga saat ini. Produsen otomotif asal China, Xpeng, menjadi salah satu pihak yang gencar mengembangkan kendaraan masa depan tersebut melalui divisi khusus bernama AeroHT.

Kendaraan inovatif mereka yang dinamakan Xpeng X2 tercatat sudah beberapa kali dipamerkan dalam ajang eksibisi otomotif nasional, seperti dilansir dari Detik Oto. Meski unit tersebut telah menjalani uji coba penerbangan durasi pendek di negara asalnya, kendaraan ini belum diproduksi maupun diedarkan secara massal ke pasar luas.

Chief Executive Officer (CEO) Xpeng Indonesia, Iki Wibowo menyatakan bahwa proses untuk mengubah mobil terbang menjadi sarana transportasi massal bukanlah perkara mudah. Dirinya belum dapat memberikan kepastian mengenai lini waktu kapan kendaraan udara ini dapat beroperasi secara resmi di wilayah Indonesia.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa kendala utama dalam mengimplementasikan teknologi ini terletak pada sektor regulasi pertanggungjawaban keselamatan. Pemerintah dan produsen perlu merumuskan aturan yang jelas terkait standar operasional kendaraan yang bergerak di dua alam tersebut.

"Mobil terbang kan ada road worthiness dan air worthiness, regulasi-regulasi itu lagi dipelajari semua. Kalau bisa fulfill regulasinya, why not? Tapi at the moment, kita masih di tahap pelajari terus,"

ujar Iki Wibowo di Bogor, Jawa Barat, belum lama ini.

Rencana operasional untuk jangka waktu 5 hingga 10 tahun ke depan di Indonesia juga belum bisa dipetakan secara mendetail oleh perusahaan. Hal ini disebabkan karena pihak keagenan merek belum mendatangkan unit contoh untuk keperluan riset lanjutan.

"Belum indept (studinya di Indonesia), karena kita belum bawa unit sample untuk dicoba. Jadi belum (dalam waktu dekat) sih,"

tuturnya.

Sistem Kemudi Otonom Tetap Membutuhkan Pengendali

Meskipun dirancang dengan sistem navigasi otomatis, Xpeng menegaskan bahwa pengoperasian wahana terbang ini tetap memerlukan keterlibatan aktif manusia. Keberadaan pilot atau pengemudi di dalam kabin bersifat wajib untuk menjaga keamanan mobilitas.

"Saya juga dengar fiturnya bisa otonom, tapi dia kan arahnya nggak ke driverless. Tetap harus ada pengemudinya,"

ungkapnya.

Skema kendali otomatis ini disamakan dengan fungsi asisten berkendara pintar yang sudah diterapkan pada lini mobil listrik komersial mereka saat ini. Sistem keamanan akan terus memberikan peringatan berkala agar pengemudi tidak melepaskan tangan dari setir kemudi.

"Contoh kayak kita punya fitur Xpilot 4.0, otonom tapi kita tetap harus pegang setirnya. Kalau nggak dipegang, dia nggak kirim reminder. Just to make sure ada orang di situ,"

kata dia menambahkan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author