Studi Ungkap Logistik Canggih VOC di Bangkai Kapal Batavia

Share

Sisa-sisa kargo kapal Batavia yang karam pada 1629 di Kepulauan Houtman Abrolhos, Australia Barat, memberikan wawasan baru tentang jaringan perdagangan global awal. Kapal milik maskapai dagang Belanda (VOC) tersebut membawa muatan berupa batu pasir, batu bata, dan material bangunan saat tenggelam bersama 341 penumpang serta awak. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science mengungkap bahwa balok batu pasir di dalam kapal ditambang dari beberapa lokasi yang kini menjadi wilayah Jerman.

VOC mengumpulkan material tersebut dari berbagai tempat sebelum mengirimkannya melintasi separuh bumi, seperti dilansir dari Detik iNET. Temuan ini mencerminkan tingginya kompleksitas sistem logistik yang diterapkan VOC pada abad ke-17. Peneliti utama studi sekaligus ilmuwan dari Curtin University, Anthony Clarke, menjelaskan bahwa VOC mampu mengonsolidasikan dan mendistribusikan material bangunan berjarak sangat jauh demi membangun infrastruktur kolonial di Asia.

Kapal Batavia melakukan pelayaran pertamanya dari Belanda pada 29 Oktober 1628 menuju ibu kota Hindia Timur saat itu, Batavia (kini Jakarta). Namun, kapal bertiang tiga ini menabrak karang pada 4 Juni 1629 dini hari dan tenggelam bersama kargo batu pasir berukir yang sedianya bakal digunakan untuk membangun gerbang atau serambi di Batavia.

Untuk menelusuri asal-usul batu yang kini tersimpan di Western Australian Museum tersebut, para ilmuwan menganalisis kandungan kristal zirkon mikroskopis di dalamnya. Mineral tangguh ini berfungsi sebagai sidik jari geologis yang mencatat waktu serta lokasi pembentukan batuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa batuan tersebut berasal dari sedikitnya dua tambang terpisah di Jerman, yakni kawasan Bentheim dan Obernkirchen, yang berjarak sekitar 144 kilometer. Material dari kedua lokasi ini kemudian diangkut ke pusat operasi VOC di Amsterdam untuk disiapkan sebelum dikirim ke Hindia Timur.

"Tidak ada dokumen tersisa yang mencatat perjalanan ini. Namun geologi mengungkap rantai pasokan canggih dan terkoordinasi yang menghubungkan pekerja tambang, pemotong batu, pengangkut sungai, pedagang, dan pelaut di Eropa barat laut," tulis Clarke bersama rekan penulis studi, Chris Kirkland.

Pemberontakan dan Tragedi Kemanusiaan

Bangkai kapal Batavia yang ditemukan pada 1963 mencatatkan sejarah kelam setelah pelayaran tersebut terhenti di Morning Reef. Sekitar 300 korban selamat sempat mengungsi ke pulau-pulau kecil di sekitarnya, sementara Komandan Francisco Pelsaert pergi membawa perahu kecil bersama 40 krunya untuk mencari bantuan hingga ke Batavia yang berjarak 2.993 kilometer. Situasi memburuk ketika seorang perwira junior bernama Jeronimus Cornelisz mengambil alih kepemimpinan di pulau penampungan.

Selama lima bulan, Cornelisz dan kelompoknya melakukan aksi teror, pembunuhan, serta penyiksaan terhadap para penyintas lainnya. Aksi keji tersebut berakhir setelah Pelsaert kembali membawa kapal penyelamat dari Batavia sekitar tujuh minggu kemudian. Cornelisz bersama enam pengikut utamanya dieksekusi gantung di Long Island pada Oktober 1629, sedangkan pemberontak tersisa dibawa ke Batavia untuk diadili.

Meski sejarah mencatat peristiwa ini sebagai aksi pemberontakan, penelitian terbaru oleh psikolog budaya Jaco Koehler mengajukan analisis berbeda. Koehler menilai kelangkaan air dan krisis pangan pasca-karam menjadi pemicu utama yang mendorong terjadinya pembunuhan massal di antara para penyintas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author