MPR Sebut Ekspor Satu Pintu Danantara Perkuat Posisi Tawar Indonesia
Kebijakan tata kelola ekspor satu pintu komoditas sumber daya alam melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia dinilai akan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perdagangan global. Kebijakan strategis ini disampaikan dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Ketua MPR Ahmad Muzani memberikan apresiasi atas langkah yang diambil oleh pemerintah untuk mengendalikan ekspor komoditas nasional tersebut.
"Kita juga menyaksikan bagaimana pemerintah mengambil kebijakan tata kelola ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang itu jelas memperkuat posisi tawar negara dalam perdagangan global," kata Ketua MPR Ahmad Muzani.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan implementasi penuh kebijakan ekspor satu pintu lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia akan dimulai pada 1 September 2026. Jadwal pelaksanaannya dimajukan dari target semula pada 1 Januari 2027.
Pemerintah saat ini masih terus menjalankan masa transisi untuk mempersiapkan berjalannya sistem ekspor terpadu tersebut secara maksimal.
"Dengan ekspor sumber daya alam satu pintu, ya, kita mengadakan tahap transisi dan kita harapkan nanti 1 September 2026 implementasi penuh," ujar Presiden Prabowo Subianto.
Pembentukan entitas pelat merah baru ini ditujukan untuk memangkas praktik under invoicing atau pemalsuan dokumen pelaporan nilai barang yang jauh di bawah harga transaksi sebenarnya. Praktik kecurangan tersebut selama ini terjadi di industri kelapa sawit sehingga memicu kerugian devisa negara dalam jumlah besar.
Pemerintah menyoroti ketimpangan harga kontrak resmi di dalam negeri yang jauh lebih rendah dibandingkan harga di pasar internasional.
"Sebagai contoh kelapa sawit banyak dijual di Indonesia resmi kontrak harganya Rp 15.000 per kilo, padahal harga di internasional di Eropa Rotterdam itu Rp 27.000, harga sebenarnya Rp 27.000, siapa yang nikmati Rp 17.000, hampir 50%. Jadi permainan seperti ini yang menusuk hati kita," ujar Presiden Prabowo Subianto.