IHSG Anjlok ke Level 6301 Akibat Review MSCI dan Aksi Jual Asing

Share

Langkah rebalancing indeks MSCI dan tingginya tekanan jual investor asing menekan Indeks Harga Saham Gabungan hingga merosot 1,13 persen ke level 6.301,77 pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Penurunan pasar saham domestik ini terjadi di tengah penantian pelaku pasar terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto dan penyampaian Nota Keuangan RAPBN 2027.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dilansir CNBC Indonesia, IHSG terkoreksi 72,08 poin setelah sempat dibuka menguat pada posisi 6.388,23 dan menyentuh level tertinggi harian 6.390,33. Sebanyak 474 saham tercatat melemah, 186 saham menguat, dan 303 saham stagnan dengan total nilai transaksi mencapai Rp13,61 triliun.

Investor asing membukukan aksi jual bersih atau net foreign outflow sebesar Rp1,41 triliun di seluruh pasar, dengan nilai penjualan bersih di pasar reguler mencapai Rp1,39 triliun. Penjualan tersebut menambah akumulasi net foreign outflow sepanjang tahun berjalan menjadi Rp71,84 triliun di seluruh pasar.

Tekanan utama terhadap pergerakan indeks disebabkan oleh saham PT Bank Central Asia Tbk yang memberikan kontribusi negatif sebesar 7,48 poin, disusul PT Amman Mineral Internasional Tbk sebesar 7,14 poin, serta PT Barito Pacific Tbk sebesar 5,25 poin. Pelemahan terdalam melanda sektor bahan baku yang anjlok 3,18 persen dan sektor utilitas yang turun 2,62 persen.

Aksi lepas saham oleh investor terjadi menyusul pengumuman hasil review MSCI periode Agustus 2026. Dalam penyesuaian tersebut, tidak ada saham Indonesia yang masuk ke dalam MSCI Global Standard Indexes, sementara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk turun kelas ke MSCI Global Small Cap Indexes.

Berbeda dengan bursa saham, nilai tukar rupiah di pasar spot Refinitiv justru menguat tipis 0,03 persen ke level Rp17.860 per dolar AS. Menguatnya mata uang Garuda didorong oleh penurunan indeks dolar AS ke level 99,984 setelah rilis data inflasi dan Indeks Harga Produsen Amerika Serikat yang melandai.

Pasar obligasi pemerintah juga mencatatkan penguatan yang tercermin dari penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun ke level 7,151 persen dari posisi sebelumnya 7,226 persen. Sementara itu, bursa Wall Street mencetak rekor baru dengan kenaikan indeks S&P 500 sebesar 0,65 persen ke level 7.798,99 ditopang oleh penurunan harga minyak mentah dunia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author