Paus Bungkuk Kembali Marak di Rio de Janeiro dan Membuka Peluang Wisata

Share

Kembalinya populasi paus bungkuk di perairan Rio de Janeiro, Brasil, kini memikat perhatian wisatawan. Mamalia laut raksasa yang sempat terancam punah ini mulai sering muncul di sekitar Kepulauan Cagarras, tak jauh dari Pantai Ipanema.

Pengunjung yang berlayar dengan kapal dapat menyaksikan momen langka saat mamalia tersebut menyemburkan air dan melompat ke permukaan, seperti dilansir dari Detik Travel.

Penampakan ini merupakan bagian dari migrasi tahunan paus bungkuk dari Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan menuju perairan Brasil yang hangat untuk berkembang biak antara Juni hingga November.

Perburuan komersial besar-besaran sejak abad ke-18 sempat membuat populasi satwa ini merosot tajam. Namun, situasi membaik secara signifikan setelah larangan global diberlakukan pada 1986.

"Pada akhir 1980-an, kurang dari 1.000 individu tercatat. Saat ini jumlahnya hampir 30.000," kata Ferrari, seperti dikutip dari The Guardian pada Jumat (14/8/2026).

Fenomena Langka di Kawasan Perkotaan

Selain di jalur migrasi utama, keberadaan paus bungkuk juga tercatat di kawasan perkotaan Teluk Guanabara dengan sedikitnya 18 penampakan. Peneliti menduga penampakan berulang tersebut berasal dari satu individu paus muda yang berada di sana sejak pertengahan Juni.

Ahli biologi kelautan Liliane Lodi dari proyek penelitian Ilhas do Rio mengungkapkan bahwa jumlah penampakan paus terus meningkat sejak 2014. Peneliti bahkan mulai mengamati perilaku unik seperti kemunculan anak paus, nyanyian paus, hingga persaingan antarpaus jantan.

Peluang Wisata Baru dan Potensi Ancaman

Fenomena alami ini mendorong berkembangnya atraksi pengamatan paus yang dijalankan oleh operator lokal. Luciane dos Santos, 53 tahun, salah satu wisatawan yang beruntung melihat enam paus bungkuk mengaku sangat puas dengan pengalaman tersebut.

"Saya merasa sangat puas. Ini benar-benar hadiah dari alam," ujarnya.

Untuk menjaga keselamatan satwa, lembaga Amigos da Jubarte memberikan pelatihan bagi operator wisata. Kapal diwajibkan menjaga jarak aman minimal 100 meter dan membatasi durasi berada di sekitar paus.

Di sisi lain, lonjakan jumlah kapal wisata memicu kekhawatiran peneliti terkait meningkatnya gangguan manusia. Selain interaksi kapal, paus bungkuk menghadapi risiko lalu lintas kapal besar, aktivitas perikanan, pencemaran bahan kimia, serta polusi suara di laut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author