PPI ITB Imbau Pemangku Kepentingan Tidak Fokus Label El Nino Kuat
Masyarakat beserta seluruh pemangku kepentingan diimbau untuk tidak terpaku pada label El Nino Kuat dalam menghadapi perubahan cuaca. Penegasan ini disampaikan oleh Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (PPI ITB) agar setiap data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diterjemahkan secara efektif, seperti dilansir dari Detikcom.
Langkah mitigasi dini sangat bergantung pada pengolahan data iklim menjadi aksi nyata untuk meredam risiko. Fenomena interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik ini dapat mengubah suhu permukaan laut serta sirkulasi udara.
Ketua Tim Pakar PPI ITB, Dr Tri Wahyu Hadi menjelaskan bahwa fenomena tersebut berdampak pada penurunan pasokan uap air ke beberapa wilayah di Indonesia. Kondisi ini yang memicu terjadinya penurunan curah hujan.
Dampak dari fenomena iklim ini tidak seragam karena dipengaruhi oleh karakteristik wilayah serta musim setempat. Karakteristik ini membuat risiko yang dialami tiap sektor dapat bervariasi.
"Mulai dari menurunnya produksi pertanian, berkurangnya pasokan air sungai dan waduk, penurunan produksi listrik berbasis tenaga air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan," sebutnya dikutip dari laman resmi ITB, Kamis (13/8/2026).
Sementara itu, Direktur Perubahan Iklim BMKG, Dr A Fachri Radjab memaparkan kondisi musim di Indonesia saat memasuki puncak kemarau. Potensi kekeringan serta karhutla mengintai daerah yang mengalami kondisi lebih kering dari umumnya.
"Sementara memasuki masa peralihan menuju musim hujan, masyarakat perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat dan angin kencang," ujar Dr. Fachri.
Peluang di Tengah Fenomena Iklim
Fenomena ini ternyata tidak melulu membawa kerugian. Penurunan intensitas hujan di sejumlah wilayah justru membuka peluang ekonomi baru, seperti optimalisasi tambak garam serta peningkatan perikanan tangkap akibat fenomena upwelling. Lahan rawa lebak juga dapat dimanfaatkan untuk penanaman padi saat debit air surut.
Terkait sektor pangan, Peneliti Senior Bidang Bahaya dan Risiko Sektor Pertanian PPI ITB dan BRIN, Elza Sumarni menerangkan fluktuasi hasil panen. Berdasarkan data periode 1990-2024, penurunan produksi padi secara nasional akibat fenomena ini berada di angka 0,5 hingga 1,7 juta ton, meski beberapa wilayah tetap mengalami peningkatan.
"Peningkatan kapasitas adaptasi petani menjadi salah satu kunci untuk menekan risiko tersebut. Upaya yang dapat dilakukan meliputi penguatan sistem informasi dan peringatan dini cuaca dan iklim, penyesuaian kalender tanam, penggunaan varietas toleran kekeringan atau berumur genjah, efisiensi penggunaan air, serta diversifikasi tanaman," bebernya.
Strategi Penanganan Berbasis Risiko
Lantaran siklusnya terus berulang, dampak dari fenomena ini sebenarnya sudah dapat diprediksi jauh-jauh hari. Data prediksi dari BMKG semestinya dimanfaatkan sebagai acuan dasar dalam merancang strategi perlindungan di sektor air, pangan, energi, hingga pencegahan karhutla.
Kepala PPI ITB, Prof Ir Djoko Santoso Abi Suroso menegaskan pentingnya persiapan sebelum kondisi memasuki fase kritis.
"Yang ingin kami luruskan adalah cara memahami El Nino. Fenomenanya terjadi di Samudra Pasifik, tetapi bagi masyarakat Indoensia yang paling penting adalah mengetahui apa dampaknya di wilayah mereka, seberapa besar risikonya, dan apa yang perlu dianticipasi," imbuhnya.
Di sisi lain, ancaman kekeringan kerap berkembang secara bertahap, dimulai dari berkurangnya kelembapan tanah hingga penurunan debit air sungai secara signifikan. Peneliti Bidang Bahaya dan Risiko Sektor Air PPI ITB, Fikry Purwa Lugiana menyebutkan bahwa pemahaman atas tahapan ini sangat krusial bagi pengambil keputusan.
"Terjemahkan prakriraan menjadi keputusan, bukan sekedar informasi," jabarnya.
Sebagai bentuk antisipasi, pemantauan berkala terhadap curah hujan, debit sungai, serta volume air waduk harus dilakukan. Langkah ini perlu diimbangi dengan pengaturan alokasi air, penyiapan sumber cadangan, dan penguatan konservasi daerah aliran sungai.
"Dengan informasi iklim yang diterjemahkan menjadi tindakan, risiko dapat ditekan dan peluang yang muncul dapat dimanfaatkan secara optimal," tegas PPI ITB.