Trump Diam-diam Dipindahkan dari Air Force One karena Ancaman Rudal di Turki
Presiden Amerika Serikat Donald Trump diam-diam dipindahkan dari pesawat kepresidenan Air Force One ke pesawat pemerintah yang lebih kecil pada 8 Juli 2026 saat meninggalkan Turki. Langkah ini dilakukan setelah Secret Service menilai ada ancaman serangan rudal terhadap Trump yang kredibel dan segera terjadi. Ancaman muncul ketika Trump menghadiri KTT NATO di Ankara, di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
Sumber yang mengetahui persoalan menyebutkan Secret Service harus merancang langkah pengamanan dalam waktu sangat terbatas. Pada saat itu, Trump dan sejumlah ajudannya pindah menggunakan truk katering untuk menyembunyikan perpindahan ke pesawat C-32A yang lebih kecil. Trump lalu terbang ke Inggris untuk mengisi bahan bakar, sementara Air Force One membawa pejabat senior dan wartawan secara terpisah.
Trump mengonfirmasi perpindahan tersebut atas arahan Secret Service. "Saya sebenarnya berpikir pesawat yang saya tumpangi memiliki risiko lebih besar," kata Trump kepada wartawan.
Douglas Birkey, Direktur Eksekutif Mitchell Institute for Aerospace Studies, mengatakan ancaman terkait rudal pencari panas yang sulit dideteksi radar dan gelombang radio, seperti rudal SA-67 buatan Iran dan rudal 9K333 Verba dari Rusia. Air Force One membawa Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, staf Gedung Putih, serta 13 wartawan yang mengikuti perjalanan presiden. Sementara ajudan dan staf Trump ikut pindah ke pesawat kecil.
Secret Service memilih menjaga kerahasiaan operasi demi keselamatan Trump, walaupun menimbulkan pertanyaan mengenai risiko yang dihadapi para pejabat dan wartawan di Air Force One. Turki belum memberikan tanggapan terkait ancaman tersebut. Presiden AS sebelumnya juga pernah melakukan perjalanan rahasia di wilayah berisiko, namun biasanya dengan pemberitahuan kepada wartawan. Kali ini, Secret Service tidak memiliki cukup waktu untuk persiapan karena ancaman yang dianggap kredibel dan mendesak.