Fenomena El Nino Kuat Ancam Indonesia Puncak Kemarau 2026

Share

Eskalasi fenomena El Nino kuat dilaporkan memicu pemanasan suhu muka laut di Pasifik tengah-timur sejak akhir Juni 2026. Kondisi atmosfer ini diprediksi berlanjut dan memangkas secara signifikan intensitas curah hujan di wilayah Indonesia.

Hasil pembahasan dalam talkshow di Pusat Perubahan Iklim (PPI) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Kamis (13/8/2026) mencatat indeks El Nino Indonesia telah mencapai angka 1,56. Angka tersebut menempatkan anomali iklim ini resmi masuk dalam kategori kuat.

Skenario BMKG memproyeksikan indeks tersebut terus menanjak hingga menembus puncaknya pada Desember 2026 atau Januari 2027. Intensitas fenomena global ini bahkan berpeluang melonjak ke kategori sangat kuat setelah melewati rentang periode tersebut.

"El Nino sangat kuat ini sudah ada polanya. Setelah ada isu perubahan iklim, iklim strong El Nino ini diperkirakan frekuensinya akan lebih sering. Ini sudah tidak bisa dianggap sebagai sekedar anomali iklim," ungkap Kepala Pusat Perubahan Iklim ITB, Djoko Santoso.

Kerentanan wilayah diprediksi kian parah mengingat fase puncak fenomena ini berlangsung bersamaan dengan periode musim kemarau di tanah air.

"Sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami puncak musim kemarau 2026 bertepatan dengan periode El Nino yang sedang menguat. Kondisi kekeringan bisa meningkat dari biasanya," paparnya.

Kombinasi ancaman bertambah seiring kemunculan fenomena Indian Ocean Dipole fase positif (DM+) yang diproyeksikan aktif pada September hingga Desember 2026. Gabungan dua dinamika atmosfer ini berpotensi menekan tingkat curah hujan secara drastis, khususnya di bagian barat Indonesia.

"El Nino kuat atau sangat kuat dan DM+ yang terjadi bersamaan dapat menyebabkan kondisi kering yang lebih parah di Indonesia, seperti pada kejadian di tahun 1997-1998," jelasnya.

Durasi El Nino di kawasan Pasifik tahun ini diprakirakan bertahan sekitar 8 hingga 9 bulan sampai kuartal pertama 2027. Kondisi ini memicu penundaan awal musim hujan yang mengancam sektor pertanian padi pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027, serta memperbesar ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Dampak kolateral sudah mulai terpantau. Kebarakan hutan merupakan salah satu dampak kolateral dari bencana kekeringan," jelas Djoko.

Data BMKG mengonfirmasi kemunculan ribuan titik panas di seluruh Indonesia hingga akhir Juli 2026. Risiko tertinggi karhutla diprediksi berpusat di Sumatera dan Kalimantan pada Agustus hingga September 2026, mencakup wilayah Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Papua Selatan.

"Risiko meningkat untuk Pulau Sulawesi pada September-Oktober 2026," ungkap Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, dalam forum yang sama.

Peningkatan konsentrasi sebaran kabut asap akibat kenaikan titik panas turut teridentifikasi di wilayah Kalimantan Barat.

"Pada musim kemarau 2026, terdapat kenaikan titik panas di Kalimantan Barat. Potensi karhutla di wilayah ini juga meningkat," jelasnya.

Penurunan risiko karhutla diperkirakan terjadi bertahap mulai Oktober hingga November 2026, meski pengawasan ketat tetap difokuskan pada area rawan api. Di sisi lain, BMKG mencatat puncak kemarau melanda 48,84 persen daratan Indonesia pada Agustus dan 25,41 persen pada September, dengan mayoritas kawasan mengalami kondisi jauh lebih kering dari biasanya.

Sebanyak 437 Zona Musim (ZOM) atau 48,77 persen wilayah Indonesia menghadapi durasi kemarau lebih panjang. Kerentanan kekeringan hidrologis diawali dari defisit curah hujan yang mengikis kelembapan tanah, menyusutkan debit sungai, hingga mengurangi cadangan air tanah.

"Ini adalah sinyal awal sebelum pengurangan air terjadi. Setelah hujan berkurang, ada beberapa tahap yang akan terjadi. Ketika ada penurunan curah hujan, kita sudah harus bersiap," ungkap Peneliti PPI ITB, Fitri Purwa Lugina.

Ketersediaan air bersih untuk masyarakat dan industri terancam jika penurunan debit air terus berlanjut tanpa penanganan.

"Di lapangan saat ini kita belum meneliti kondisi riil sampai sejauh mana tahapan kekeringan ini. Yang terlihat adalah defisit air hujan. Di Jabar sendiri saat ini hari tanpa hujannya sudah lebih dari 60 hari," jelasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author