Musim Hujan Indonesia Berpotensi Mundur ke Januari 2027
Penguatan fenomena El Nino berpotensi memicu penundaan awal musim hujan di Indonesia hingga awal atau pertengahan Januari 2027, berdasarkan paparan Institut Teknologi Bandung pada Kamis, 13 Agustus 2026. Pergeseran pola iklim ini mengancam sektor pertanian karena jadwal tanam masyarakat yang umumnya dimulai menjelang akhir tahun terpaksa mengalami penyesuaian secara signifikan. Kepala Tim Pakar PPI-ITB Tri Wahyu Hadi menyampaikan data terkait variasi periode musim hujan pada diskusi mengenai dampak El Nino di Kampus ITB.
"Awal musim hujan di Indonesia itu bervariasi, tetapi di Jawa umumnya itu Desember," kata Kepala Tim Pakar PPI-ITB, Tri Wahyu Hadi.
Eskalasi kekuatan fenomena iklim ini diperkirakan memperpanjang masa kekeringan dan memunculkan ketidakpastian bagi para petani. "Namun, menurut dia, kondisi El Nino yang kuat berpotensi membuat musim hujan mundur hingga awal Januari atau bahkan pertengahan Januari," ujar Tri Wahyu Hadi.
Perubahan jadwal kedatangan hujan tersebut memicu kekhawatiran terhadap penurunan hasil panen nasional akibat pergeseran waktu tanam. "Biasanya petani nanam di Desember atau November bahkan, tapi harus mundur ke Januari dan itu akan menurunkan produktivitas cukup signifikan," jelas Tri Wahyu Hadi.
Ancaman dampak kekeringan dipengaruhi oleh tingkat kerentanan serta kondisi geografis pada masing-masing wilayah di Indonesia. "Tingkat dampaknya, kata dia, tidak hanya ditentukan oleh kekuatan El Nino, tetapi juga kondisi kerentanan di masing-masing wilayah dan sektor," papar Tri Wahyu Hadi. Sejarah mencatat fenomena serupa pernah melanda Indonesia pada beberapa periode sebelumnya dengan dampak yang bervariasi.
"Jadi ada faktor lain yang bisa memperkuat dampak. El Nino saja mungkin dampaknya tidak sekuat kalau disertai dengan fenomena lain tadi," jelas Tri Wahyu Hadi.
Pemantauan indikator iklim global menunjukkan bahwa eskalasi kondisi kekeringan telah berlangsung secara konsisten dalam beberapa bulan terakhir. "Sejak akhir Juni 2026, indeks ini sudah berada di angka 1,56 dan ini sudah masuk kategori kuat," ucap Tri Wahyu Hadi.