Danantara Dorong Insentif Dan Standar Global Motor Listrik Nasional

Share

Badan Pengelola Investasi Danantara menyiapkan skema insentif pembiayaan hingga fasilitas tanpa uang muka guna memacu opsi penggunaan motor listrik nasional. Kebijakan ini diiringi peluncuran awal 20.000 unit kendaraan listrik buatan PT Ilectra Motor Group di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026).

Kepala Negara Prabowo Subianto menegaskan dukungan pemerintah terhadap percepatan transisi menuju kendaraan ramah lingkungan. Skema penyesuaian suku bunga kredit turut dirancang guna meringankan beban finansial masyarakat secara signifikan.

"Hari ini launching, hari ini saya tanda tangani, karena hari ini kelompok Indika telah berhasil produksi 20.000 motor. Saya bilang ke kelompok Indika, kalau kalian nanti mencapai 200.000 saya datang lagi. 2 juta saya datang lagi," kata Prabowo dalam acara peresmian.

Langkah penghematan harian masyarakat menjadi pertimbangan utama di balik penetapan skema bunga rendah serta peniadaan uang muka untuk pembelian unit baru.

"Tadi kita bicarakan, Menteri Keuangan tidak akan terlalu suka tapi ya ini ujungnya you akan juga suka, di ujungnya. Kita akan turunkan apa itu? Bunga.

Bunga cicilan kita turunkan untuk rakyat! Kemudian kita usahakan tidak pakai DP!" kata Prabowo.

Penggunaan opsi kendaraan listrik dinilai mampu memangkas pengeluaran harian hingga separuh dari biaya operasional motor berbasis BBM.

"Kita tadi hitung memakai motor listrik dibandingkan dengan motor bensin penghematannya minimal 50 persen pengeluaran kalian untuk sehari-hari bergerak gitu," ucap dia.

Guna merealisasikan target pembiayaan terjangkau tersebut, Danantara mulai berkoordinasi dengan perbankan BUMN untuk menghapus beban DP yang sebelumnya ditetapkan sebesar 10 persen.

"Kita siap mendukung dari perbankan kami untuk memberikan pendanaan dengan suku bunga lebih rendah, jangka waktu lebih panjang, dan kita akan membuat agar DP-nya yang selama ini masih ada kalau menurut informasi dari perbankan kami itu adalah 10%, kita akan coba reduce bahkan akan kita coba hilangkan," kata Rosan dalam acara peluncuran Molinas di Bekasi, Kamis (13/8).

Pengembangan industri motor listrik dalam negeri turut melibatkan 10 produsen lokal yang telah memenuhi standar Tingkat Komponen Dalam Negeri dari Kementerian Perindustrian. Seluruh pabrikan akan bekerja sama dengan PT Len Industri (Persero) dan tim ahli untuk mengejar standar kualitas internasional.

"Bapak Presiden (Prabowo Subianto), kurang lebih ada 10 perusahaan nasional yang sudah memenuhi kriteria pemenuhan TKDN-nya oleh Kementerian Perindustrian, dan kita akan bersama-sama di bawah arahan dan juga di bawah kerja sama nanti dengan LEN dan juga oleh Profesor Sigit," ujar Rosan dalam peluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) di Bekasi, Kamis (13/8).

Rosan menilai seluruh bahan baku utama pembuatan ekosistem kendaraan listrik sudah tersedia di dalam negeri, termasuk ketersediaan cadangan nikel yang melimpah.

"Kalau kita lihat Bapak Presiden, ingredient-nya atau resepnya kita untuk motor listrik nasional ini semuanya ada di kita Bapak Presiden," kata Rosan.

Hilirisasi nikel nasional yang menguasai 46 persen cadangan dunia akan dioptimalkan menjadi sel baterai hingga pasokan komponen baterai terpadu.

"Baterai untuk listrik nasional ini kita akan dorong secara penuh untuk menggunakan nickel based. Karena nikel kita ketahui bersama, 46% reserve nikel di dunia itu ada di Indonesia," kata Rosan, dikutip dari tayangan Sekretariat Presiden, Kamis (13/8/2026).

Dari total 140 juta unit sepeda motor yang beroperasi di Indonesia, penjualan tahunan mencapai 6 hingga 7 juta unit. Namun, penetrasi sepeda motor listrik saat ini baru menyentuh angka 60 ribu hingga 70 ribu unit per tahun.

"Jadi hanya 1%. Jadi kalau kami lihat ini potensi ke depannya, upside-nya ini bisa secara eksponensial. Dan oleh sebab itu, kami melihat juga market size-nya kurang lebih sampai 170 billion USD," tutur Rosan.

Proyeksi pasar kendaraan roda dua berbasis listrik di Indonesia ditargetkan mampu menembus nilai 170 miliar dolar AS atau setara Rp3.040,36 triliun secara bertahap.

"Dan bisa tidak hanya menjadi champion di Indonesia, tetapi juga champion di regional, bahkan harus menjadi champion di dunia," tandas Rosan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author