Turki Sebut Laporan Intelijen Israel KTT NATO Rekayasa
Pejabat Pemerintah Turki menilai laporan intelijen Israel mengenai dugaan rencana Iran membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat KTT NATO di Ankara pada 8 Juli 2026 merupakan bentuk rekayasa, seperti dilansir dari Detikcom.
Klaim ancaman serangan rudal tersebut diduga dirancang untuk memengaruhi Dinas Rahasia Amerika Serikat sekaligus menggagalkan proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat yang bertujuan mengakhiri konflik bersenjata secara permanen.
Pemerintah Turki menegaskan telah melakukan pemeriksaan secara seksama terhadap informasi intelijen yang diserahkan kepada pihak Amerika Serikat sebelum menyimpulkan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar.
"Tentu saja, kami menanggapi laporan itu dengan sangat serius dan mencoba membantu rekan-rekan Amerika kami sebisa mungkin… Namun, sangat jelas bagi kami bahwa laporan ini sama sekali tidak benar," kata salah satu sumber kepada MEE tentang laporan intelijen Israel yang disampaikan kepada pejabat AS di Turki pada 8 Juli.
Laporan Middle East Eye menyebutkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan timnya berusaha membangun narasi pelindungan terhadap Donald Trump guna memperlemah diplomasi pembukaan kembali Selat Hormuz. Selain itu, isu pembunuhan tersebut berpotensi merusak hubungan bilateral Turki dan Iran yang relatif stabil selama konflik AS-Israel berlangsung.
Di sisi lain, ancaman serangan rudal tersebut memicu prosedur pengamanan ketat terhadap pergerakan Donald Trump di Turki. Dinas Rahasia Amerika Serikat menilai informasi ancaman tersebut kredibel dan mendesak sehingga memicu operasi pemindahan secara tertutup.
Donald Trump beserta para ajudannya dipindahkan secara rahasia dari pesawat Air Force One ke pesawat militer C-32A menggunakan truk katering untuk meninggalkan Ankara, sementara pesawat Air Force One lepas landas secara terpisah membawa rombongan pejabat senior dan media.