BMKG Konfirmasi El Nino Kuat Picu Kemarau Panjang di Indonesia

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan kering di Indonesia hingga awal 2027.

Data BMKG menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 di Samudra Pasifik timur berada di atas +2°C, menandakan El Nino kategori kuat. Selain itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) juga positif yang mengurangi suplai uap air ke Indonesia.

Berdasarkan prakiraan Dasarian II Agustus 2026, sekitar 95,62 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan rendah, sementara 4,38 persen lainnya masuk kategori menengah.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa kekuatan El Nino saat ini telah melebihi ambang batas kategori kuat dengan indeks Nino 3.4 mencapai lebih dari 1,56°C.

"Monitoring suhu permukaan laut di Pasifik telah menunjukkan indeks Nino 3.4, yang menyatakan kekuatan El Nino yang telah melebihi threshold kategori kuat, yaitu di atas 1,5°C, saat ini lebih dari 1,56°C," ujar Ardhasena.

Dia menambahkan, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang negatif di Samudra Hindia memberikan peluang terjadinya kondisi global yang semakin panas.

BMKG memprediksi puncak El Nino akan terjadi pada Desember 2026 atau Januari 2027 dan kemungkinan melewati batas kategori kuat.

"Saat ini prediksi BMKG menunjukkan bahwa terdapat peluang signifikan kondisi El Nino tahun ini dapat melebihi kategori El Nino kuat," tambah Ardhasena.

Linda Fitrotul, Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, mengingatkan masyarakat daerah tersebut agar mewaspadai berkurangnya curah hujan yang menyebabkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Dampak yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya curah hujan dan musim kemarau menjadi lebih kering, karena dapat menyebabkan hari tanpa hujan menjadi lebih panjang, meningkatkan potensi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air untuk pertanian maupun kebutuhan masyarakat, serta meningkatkan risiko karhutla," kata Linda.

Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran seperti pembakaran sampah dan membuka lahan dengan api.

BMKG juga mengeluarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis untuk beberapa wilayah di Indonesia dengan kategori waspada, siaga, hingga awas, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Selain itu, suhu harian maksimum di beberapa wilayah mencapai lebih dari 35°C, seperti di DI Yogyakarta, Lampung, dan Pontianak, yang mengindikasikan cuaca sangat panas dan kering.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan serta menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author