Arab Saudi dan UEA Alihkan Jalur Ekspor Minyak Hindari Selat Hormuz

Share

Blokade dan ketidakpastian di Selat Hormuz telah memaksa negara pengekspor energi mencari jalur alternatif untuk ekspor minyak global. Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Senin (10/8) bahwa Angkatan Laut AS telah menguasai Selat Hormuz dan telah membersihkan ranjau di perairan tersebut.

Selat antara Iran dan Oman itu adalah jalur utama pengiriman minyak dengan sekitar 20% ekspor minyak mentah global melewati jalur ini sebelum konflik. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mengalihkan pengiriman minyak melalui jalur lain untuk menghindari gangguan.

Arab Saudi memanfaatkan pipa East-West yang menghubungkan ladang minyak di timur Arab Saudi ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Data dari platform PortWatch IMF menunjukkan pengiriman minyak lewat Teluk Saudi turun drastis dari 47,5 juta ton menjadi 6,3 juta ton, sementara ekspor lewat Laut Merah meningkat dari 29,6 juta ton menjadi 54,8 juta ton, menggantikan 61% volume yang hilang.

Meski UEA memiliki pelabuhan di luar Selat Hormuz seperti Fujairah, lokasi tersebut rentan terhadap serangan drone dan rudal. Lalu lintas kapal di Teluk Persia UEA turun dari 68,5 juta ton menjadi 12 juta ton, dan pelabuhan alternatif juga menurun dari 13,7 juta ton menjadi 6,3 juta ton, menurut data PortWatch IMF.

Ekonom Hassan Mansour menyebut usulan pembangunan jaringan pipa baru dari Irak ke Oman dan Yordania serta jalur laut mengelilingi Afrika memerlukan biaya besar dan waktu bertahun-tahun, sehingga tidak menyelesaikan krisis dalam waktu dekat.

"Intinya, proyek-proyek ini tidak dapat menyelesaikan masalah pasar minyak dalam waktu dekat," ujar Hassan Mansour.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengusulkan jalur alternatif lewat Israel yang menghubungkan pipa minyak dan gas menuju pelabuhan di Mediterania, agar menghilangkan titik sempit seperti Selat Hormuz dan Bab al-Mandab.

Analis politik Rahman Ghahremanpour menyatakan jalur alternatif dan pipa rentan serangan, dan negara seperti Qatar, Kuwait, dan Bahrain yang tidak memiliki pantai di luar Teluk Persia akan tetap bergantung pada Selat Hormuz dalam jangka pendek.

"Pipa-pipa ini dapat mengurangi dampak Selat Hormuz, tetapi dalam masa perang, pipa-pipa itu sendiri rentan," ujar Rahman Ghahremanpour.

"Jika Iran mempertahankan penutupan Hormuz terlalu lama, koalisi internasional yang lebih luas dapat terbentuk melawan Teheran. Tujuan Iran adalah mencegah koalisi tersebut terbentuk," tambahnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Energi minyak selat hormuz
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author