Haedar Nashir Terpilih Terima Status Wartawan Utama Dewan Pers
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir resmi menerima status Wartawan Utama dari Dewan Pers di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan, Kamis (13/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom. Penerimaan status kompetensi tertinggi tersebut diraih Haedar setelah meniti karier jurnalistik sejak era 1980-an.
Pengakuan kompetensi dari Dewan Pers ini menjadi penanda perjalanan panjang Haedar di dunia jurnalistik. Pria yang kini memimpin organisasi kemasyarakatan Islam tersebut mengenang awal perjalanannya saat pertama kali meniti karier sebagai reporter pemula di media internal organisasi.
"Jadi saya menjadi wartawan Suara Muhammadiyah tahun 1984. Saya yakin sebagian ada yang mungkin baru lahir atau belum lahir. Menjadi wartawan pemula di Suara Muhammadiyah, media yang tertua di Indonesia, lahir tahun 1915," kata Haedar dalam pidatonya usai menerima status Wartawan Utama di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tangerang Selatan, Kamis (13/8/2026).
Haedar menceritakan bagaimana dirinya menjalani proses penggemblengan yang ketat saat bertugas meliput berita di lapangan. Ia harus memanfaatkan berbagai moda transportasi umum hingga berjalan kaki untuk mengumpulkan informasi di pelbagai wilayah.
"Saya selama hampir 5 tahun itu betul-betul digembleng oleh Pak Hazim Amir (Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah saat itu) untuk menjadi wartawan lapangan. Wartawan lapangan yang memungut berita dari berbagai tempat, daerah, naik bis, jalan kaki, kemudian naik kereta biasa, dan seluruh kendaraan yang ya harus saya manfaatkan di Jawa, luar Jawa," katanya.
Pengalaman kerja lapangan tersebut diwarnai dengan disiplin redaksional yang sangat ketat dari pemrednya kala itu. Naskah berita yang ia susun tak jarang ditolak, dicoret dengan tinta merah, hingga disobek langsung di hadapannya karena dianggap belum memenuhi standar jurnalistik.
"Dan pengalaman itu menurut saya betul-betul menjadi wartawan, bukan hanya penulis. Menjadi penulis saya punya cerita sendiri. Menjadi wartawan yang tidak jarang berita saya bikin itu, itu tidak dipakai.
Bahkan satu-dua disobek gitu. Kan sakit hati. Bikin sudah merasa diri ini benar, baik gitu sesuai dengan prinsip jurnalistik.
Tidak, disobek di depan kita. Ada juga yang dia selalu pakai bolpoin tinta merah," kenang dia.
Pendidikan kedisiplinan tersebut pada akhirnya membawa Haedar dipercaya menduduki posisi Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah. Pengalaman keras di masa lalu membentuk standar tinggi dalam kepemimpinannya di meja redaksi.
"Baru setelah perjalanan itu, saya selain menjadi wartawan masuk redaksi, dan di situlah kemudian tidak harus selalu ke lapangan, tapi menjadi redaktur. Dan modal itu pula yang kemudian setelah saya jadi pimpinan redaksi, bertahan biasa 5 hari. Sikap saksama, cermat, dan kadang juga terpengaruh oleh pengalaman itu ada semacam deprivasi relatif. Saya tidak toleran terhadap teman-teman SM yang menulis asal-asalan," katanya.
Proses administrasi penetapan status kompetensi ini difasilitasi oleh Lembaga Uji Kompetensi Wartawan UMY bersama Dewan Pers. Haedar mengungkapkan kepemilikan kartu kompetensi utama merupakan hal yang sudah lama ingin ia dapatkan.
"Jadi terima kasih kepada Dewan Pers Nasional, kepada Lembaga Uji Kompetensi Wartawan UMY, dan media yang telah mengatur secara administratif. Kenapa dulu saya sempat tidak, tidak dapat? Waktu itu kan rasanya zaman-zaman dulu ya, kita dapat kartu wartawan itu pikirannya ada macam-macam lah gitu.
Jadi teman-teman ikut tes, saya nggak ikut gitu. Ya nggak apa-apa lah, yang penting jadi wartawan gitu. Tapi lama-kelamaan terpikir juga ingin dapat Kartu Utama," katanya.