3 praktik setelah melahirkan yang bisa menghambat proses menyusui
Masa-masa awal setelah persalinan sangat menentukan kelancaran menyusui, tetapi masih ada praktik yang kerap dilakukan tanpa dukungan bukti ilmiah. Kondisi ini dapat membuat ibu lebih mudah cemas, lalu berdampak pada kelancaran pemberian ASI. Dilansir dari HaiBunda, penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine dan dikutip dari laman Medical Xpress menyoroti kesalahpahaman yang muncul pada 48–72 jam pertama setelah persalinan.
Penelitian tersebut menemukan tiga praktik yang dapat menghambat keberhasilan menyusui pada bayi yang lahir pada waktu normal dan dalam kondisi sehat. Tim yang dipimpin dari Sapienza University of Rome menganalisis 78 studi dari berbagai negara. Dari hasil analisis itu, mereka menyimpulkan adanya tiga kesalahpahaman umum yang diidentifikasi pada periode awal setelah persalinan.
Temuan ini juga menekankan peran dukungan dan informasi yang tepat sejak awal, karena keberhasilan menyusui tidak hanya dipengaruhi faktor produksi ASI. Pengelolaan informasi yang keliru dapat memicu keputusan yang tidak sesuai kebutuhan bayi.
1. Menganggap kolostrum tidak cukup
Banyak ibu khawatir produksi ASI di hari-hari pertama terlalu sedikit, sehingga memilih memberikan susu formula lebih awal. Padahal, peneliti menyebut kolostrum atau ASI pertama memiliki kandungan nutrisi yang sangat tinggi dan volumenya telah disesuaikan dengan kapasitas lambung bayi baru lahir.
Dokter anak sekaligus peneliti utama, Maria Di Chiara, menjelaskan bahwa anggapan ASI tidak cukup sering kali muncul dari ekspektasi yang kurang tepat, bukan karena produksi ASI benar-benar bermasalah. Pemberian susu formula tanpa indikasi medis juga dapat mengurangi rangsangan pada payudara, sehingga produksi ASI berpotensi menurun.
2. Membatasi empeng secara rutin
Beberapa fasilitas kesehatan masih melarang empeng karena dianggap mengganggu proses menyusui. Namun, berdasarkan uji klinis yang ditinjau dalam penelitian ini, penggunaan empeng pada bayi yang lahir cukup usia kehamilan dan sehat tidak terbukti mengurangi durasi maupun keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Peneliti menilai orang tua sebaiknya memperoleh informasi yang seimbang berdasarkan bukti ilmiah. Dengan cara itu, keputusan bisa disesuaikan dengan kebutuhan bayi, bukan sekadar mengikuti larangan yang bersifat umum.
3. Terlalu dini memakai pompa ASI elektrik
Pompa ASI elektrik memiliki manfaat dalam kondisi tertentu, misalnya ketika ibu dan bayi harus terpisah sementara atau bayi mengalami kesulitan menyusu langsung. Meski demikian, penelitian ini menemukan belum ada bukti kuat untuk penggunaan pompa ASI elektrik secara rutin pada hari-hari pertama setelah persalinan. Penggunaan pompa terlalu dini juga dinilai dapat memperkuat kekhawatiran ibu bahwa produksi ASI tidak mencukupi. Jika pemerahan memang diperlukan pada masa awal menyusui, para peneliti menyarankan metode pemerahan dengan tangan sebagai pilihan pertama.
Dilihat dari rangkaian temuan tersebut, keberhasilan menyusui memerlukan dukungan dan informasi yang sesuai sejak hari-hari pertama. Karena itu, ibu disarankan tidak mudah percaya pada mitos yang belum terbukti kebenarannya. Dengan pendampingan tenaga kesehatan serta edukasi yang selaras bukti ilmiah, ibu dapat menjalani proses menyusui dengan lebih tenang dan percaya diri, sehingga kebutuhan nutrisi Si Kecil tetap terpenuhi secara optimal.