Menteri Transmigrasi Dorong Kampus Buat Living Laboratory

Share

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong perguruan tinggi untuk menjadikan kawasan transmigrasi sebagai ruang penerapan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi saat memberikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa (11/8/2026), seperti dilansir dari Detikcom.

Kementerian Transmigrasi mendorong pengembangan kampus satelit dengan menjadikan kawasan transmigrasi sebagai laboratorium hidup atau living laboratory. Langkah ini bertujuan agar mahasiswa dan akademisi dari pelbagai disiplin ilmu dapat melakukan riset, menguji pengetahuan, dan menghasilkan inovasi berdasarkan persoalan nyata masyarakat.

Pengembangan tersebut mencakup bidang pertanian, kesehatan, pendidikan, ekonomi, teknologi, hingga lingkungan. Salah satu penerapannya dilakukan melalui program Tim Ekspedisi Patriot.

"Tidak ada jalan lain selain menghadirkan sumber daya manusia unggul dalam transformasi transmigrasi. Harus ada banjir ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan kawasan transmigrasi," kata Iftitah, Kamis (13/8/2026).

Upaya menghadirkan berbagai disiplin ilmu di kawasan transmigrasi menjadi fokus utama pemerintah untuk mendukung komoditas unggulan lokal.

"Bukan hanya kesehatan dan kedokteran. Kita ingin menghadirkan berbagai disiplin ilmu di kawasan transmigrasi, salah satunya melalui Tim Ekspedisi Patriot," tegas Iftitah.

Sebagai contoh, komoditas kopi membutuhkan pendampingan berbasis ilmu pengetahuan mulai dari tahap pembibitan, perawatan, pemetikan, pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran. Pendekatan ini diterapkan agar kekayaan alam diolah menjadi produk bernilai tambah, sehingga masyarakat lokal tidak sekadar menjadi penonton saat investasi masuk.

"Kalau di sana tumbuh kegiatan ekonomi, ekosistemnya juga harus dibangun. Masyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi penonton ketika investasi hadir di tanahnya sendiri," papar Iftitah.

Peningkatan kapasitas masyarakat lokal menjadi hal krusial agar warga siap menjadi tenaga terampil, pelaku usaha, hingga bagian dari pemilik ekosistem ekonomi. Dalam pengelolaan talenta, Indonesia juga dapat mempelajari praktik brain circulation yang diterapkan Tiongkok untuk membawa kembali pengetahuan dan jaringan dari luar negeri.

"Pembangunan kawasan harus berkelanjutan. Tidak ada yang instan. Pembangunan juga tidak boleh mengabaikan lingkungan dan budaya masyarakat setempat," tutur Iftitah.

Prinsip pembangunan berkelanjutan tersebut dicontohkan pada kawasan transmigrasi di Kabupaten Kutai Kartanegara yang kini berkembang menjadi hutan konservasi orangutan dan beruarang madu sekaligus potensi destinasi wisata.

"Transmigrasi bukan sekadar program, tetapi strategi untuk mewujudkan Indonesia maju. Semakin berilmu, semakin mampu kita melihat potensi, mengembangkannya menjadi kekuatan ekonomi, dan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," pungkas Iftitah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author