Xavi Hernandez Resmi Latih Belanda dan Menolak Opsi Pelatih Korea
Federasi Sepak Bola Kerajaan Belanda (KNVB) resmi menunjuk legenda Barcelona, Xavi Hernandez, sebagai pelatih kepala tim nasional putra Belanda pada Kamis (13/8/2026). Penunjukan ini sekaligus menutup peluang Xavi untuk melatih tim nasional Korea Selatan.
KNVB mengikat pelatih berusia 46 tahun tersebut dengan kontrak jangka panjang berdurasi empat tahun yang berlaku hingga Piala Dunia FIFA 2030. Xavi menggantikan Ronald Koeman yang mengundurkan diri setelah kegagalan timnas Belanda di babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Kehadiran mantan pelatih Barcelona ini mengakhiri penantian selama 48 tahun bagi publik sepak bola Belanda terkait sosok juru taktik asing. Terakhir kali timnas Belanda ditangani pelatih luar negeri terjadi pada Piala Dunia 1978 di Argentina saat dipimpin Ernst Happel asal Austria.
Sebelum resmi berlabuh di Belanda, nama Xavi sempat masuk dalam bursa calon pelatih Korea Selatan untuk menggantikan posisi pelatih yang kosong. Mantan gelandang timnas Spanyol tersebut sempat mengutarakan ketertarikannya menukangi tim nasional demi memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga.
"Target saya selanjutnya adalah melatih tim nasional," kata Xavi.
Keinginan Xavi untuk tampil di ajang antarnegara tingkat tinggi juga diungkapkannya secara terbuka sebelum kesepakatan dengan KNVB tercapai.
"Di klub hanya ada sedikit waktu untuk dihabiskan bersama keluarga, jadi saya ingin berpartisipasi di Piala Dunia, Euro, Piala Afrika, atau Piala Asia," ujar Xavi.
Meskipun menaruh minat pada posisi pelatih utama Korea Selatan, Xavi dilaporkan menolak skema "pelatih sementara" yang ditawarkan Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA). Sumber sepak bola menyebut Xavi tidak mengajukan lamaran dalam proses perekrutan terbuka posisi interim yang baru saja ditutup.
KFA saat ini masih melanjutkan pencarian pelatih interim yang hanya akan bertugas memimpin enam pertandingan internasional dari September hingga November. Sementara itu, kandidat lain seperti Herve Renard telah memilih melatih Pantai Gading, dan Roberto Martinez dikaitkan dengan posisi kepelatihan lainnya.