Harita Nickel Bangun 52 Kolam Penampung Sedimen di Pulau Obi guna Jaga Ekosistem

Share

Pengelolaan limpasan air akibat curah hujan tinggi menjadi fokus utama dalam aktivitas pertambangan di wilayah tropis basah. Dilansir dari Detikcom, langkah pengendalian ini diterapkan di kawasan operasional Harita Nickel yang terletak di Pulau Obi.

Pulau Obi mengalami intensitas hujan yang sangat tinggi hampir sepanjang tahun. Berdasarkan data tahun 2022, tingkat curah hujan di wilayah tersebut bahkan mampu mencapai 4.600 mm.

Aliran air dari area terbuka berisiko membawa partikel tanah ke badan air sekitar jika tidak dikelola dengan tepat. Terlebih lagi, kawasan operasional perusahaan bersentuhan langsung dengan wilayah laut yang menjadi habitat biota laut dan area tangkap nelayan.

Guna mengatasi tantangan tersebut, Harita Nickel mendirikan sedikitnya 52 kolam penampung sedimen di area operasional mereka. Fasilitas ini berfungsi menyaring dan menahan aliran air sebelum dilepaskan kembali menuju lingkungan alami.

Salah satu infrastruktur penampungan terbesar yang beroperasi adalah kolam Tuguraci 2. Kolam penampungan ini dirancang dengan luas mencapai 43 hektare serta memiliki kapasitas tampung hingga 924.000 meter kubik.

Tim Observasi Perkumpulan Telapak telah melakukan penelusuran langsung di area pengendalian limpasan tersebut. Berdasarkan pengamatan dari atas kolam Tuguraci 2, air berwarna kecokelatan mengalir perlahan ke penampungan untuk diproses lebih lanjut.

Selain itu, tim observasi memantau adanya pengerukan sedimen di dasar kolam secara berkala. Lumpur hasil endapan tersebut kemudian dikumpulkan kembali untuk menyokong aktivitas reklamasi lahan bekas tambang.

"Kolam ini sangat efektif menangkap aliran air di area perusahaan," ujar perwakilan Tim Observasi Perkumpulan Telapak Dickson Aritonang, dalam keterangan tertulis, Selasa (26/5/2026).

Proses pengolahan air limpasan dari area tambang ini memanfaatkan instalasi khusus dengan teknologi koagulan dan flokulan. Teknologi tersebut diaplikasikan untuk mereduksi partikel tersuspensi sebelum dialirkan ke luar ekosistem tambang.

Lumpur yang didapatkan dari sisa pengolahan air limbah tersebut tidak dibuang begitu saja. Pihak pengelola memanfaatkannya kembali sebagai media tanam guna menghijaukan area reklamasi.

Tata kelola air kini dipandang oleh para peneliti lingkungan sebagai indikator krusial dalam menilai aktivitas pertambangan tropis. Khususnya pada wilayah dengan karakteristik bentang alam yang sensitif seperti di Pulau Obi.

Konsep planetary boundaries yang digagas ilmuwan sistem bumi Will Steffen dan Tim Stockholm Resilience Centre menitikberatkan stabilitas perairan. Kualitas air menjadi komponen utama agar aktivitas manusia tetap berada dalam batas aman lingkungan.

Dickson menilai stabilitas tanah di sekitar kolam sedimentasi masih bisa ditingkatkan melalui metode vegetatif. Penanaman pohon dengan akar kokoh di sekeliling kolam dinilai mampu memperkuat struktur tanah sekaligus menjadi penyaring alami.

Langkah perlindungan lingkungan di kawasan ini juga dikombinasikan dengan pembuatan zona penyangga di sekitar badan air. Pengelola turut menerapkan teknologi aerasi guna menjaga sirkulasi dan kadar oksigen di dalam air.

Pola pendekatan berbasis vegetasi dan sistem alami ini merepresentasikan penerapan nature-based solutions. Metode tersebut kini kian jamak diimplementasikan dalam sistem pengelolaan lingkungan pertambangan modern.

Peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Sonny Abfertiawan memberikan pandangan terkait manajemen lingkungan di wilayah tropis basah. Menurutnya, tata kelola pertambangan memerlukan pendekatan yang adaptif dan terus menyesuaikan dinamika lapangan.

"Harita Nickel adalah salah satu perusahaan yang telah menerapkan prinsip good mining practice dengan serius, meski penerapan di lapangan akan selalu menghadapi tantangan karena kondisi alam yang dinamis," ujar Sonny.

Sonny menambahkan bahwa Pulau Obi mempunyai sumber air yang sangat bernilai, termasuk Sungai Akelamo dan Danau Karo. Kualitas kedua sumber air ini wajib diproteksi karena memiliki potensi pemanfaatan yang masif bagi masyarakat setempat.

Kendati demikian, Sonny mengingatkan bahwa curah hujan tinggi dan cuaca yang fluktuatif menuntut keandalan sistem kendali limpasan. Rancangan sistem harus tetap tangguh agar kualitas air yang dialirkan selalu memenuhi baku mutu lingkungan meski terjadi cuaca ekstrem.

Manajemen limpasan air di kawasan tropis Pulau Obi menjadi sebuah proses yang bergerak selaras dengan perubahan alam. Fleksibilitas serta daya adaptasi sistem mitigasi menjadi kunci utama dalam memelihara mutu lingkungan di sekitar area pertambangan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author