TNI AL Buka Suara Soal Latihan Pelayaran China Di Taiwan

Share

Rencana latihan militer antara Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dan militer China di lepas pantai timur Taiwan menuai kecaman dari otoritas Taiwan pada pertengahan Agustus 2026, seperti dilansir dari Detikcom.

Kementerian Pertahanan China sebelumnya mengumumkan bahwa kapal perangnya akan menggelar latihan pelayaran bersama kapal fregat Indonesia. Langkah tersebut diklaim Beijing bertujuan untuk menjaga stabilitas kawasan serta meningkatkan kemampuan operasional gabungan kedua negara.

Sikap agresif China dengan mengerahkan kapal perang dan jet tempur di sekitar perairan Taiwan terus terjadi bersamaan dengan latihan militer internal Taiwan. Pemerintah Taiwan menilai manuver China yang melibatkan Indonesia tersebut sebagai upaya propaganda kedaulatan.

Pemerintah Taiwan melalui Dewan Urusan Daratan menyampaikan penolakan keras atas aktivitas militer China di wilayah perairan tersebut.

"Langkah ini, pada kenyataannya… bertujuan untuk menciptakan kesan palsu bagi komunitas internasional bahwa CCP memiliki yurisdiksi atas perairan di sebelah timur Taiwan dan secara terang-terangan melanggar kedaulatan nasional dan hak serta kepentingan maritim kami," kata Dewan Urusan Daratan.

Menanggapi sorotan internasional tersebut, Mabes TNI Angkatan Laut memberikan klarifikasi mengenai keterlibatan armada militernya. TNI AL menegaskan bahwa agenda tersebut merupakan bagian dari perlintasan rutin usai menjalankan misi diplomatik di Rusia.

Pihak TNI AL menjelaskan bahwa kegiatan tersebut murni latihan pendaratan dan penyambutan kapal biasa yang berlaku secara internasional.

"Passing exercise yang dilaksanakan bukan bersifat war fighting, tetapi sebagai tradisi navy secara universal apabila melintas wilayah perairan suatu negara," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Tunggul.

Kapal perang KRI I Gusti Ngurah Rai-332 sebelumnya telah menyelesaikan Latihan Bersama ORRUDA 2026 bersama Angkatan Laut Federasi Rusia di Vladivostok pada akhir Juli. Saat berlayar kembali menuju tanah air, kapal Indonesia melintasi jalur laut internasional dan melakukan komunikasi lintas laut dengan negara-negara di sepanjang rute.

Perwira tinggi TNI AL tersebut menegaskan bahwa agenda interaksi antarkapal perang di laut lepas adalah norma lazim dalam hubungan internasional.

"Passex ini juga merupakan goodwill engagement yang umum dilakukan angkatan laut di dunia sebagai wujud naval brotherhood serta diplomasi maritim yang melekat pada kapal perang," tutur Laksma Tunggul.

Pihak militer Indonesia menekankan pentingnya menjaga independensi jalur diplomasi dengan semua pihak tanpa memihak pada konflik kawasan tertentu.

"Politik luar negeri Indonesia bebas aktif memberikan peluang kerja sama menguntungkan dengan negara mana pun, termasuk giat Passex dengan sejumlah negara," katanya.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Militer China Taiwan TNI AL
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author