AS Kirim Bantuan dan Spesialis Bencana Usai Gempa Kolombia
Pemerintah Amerika Serikat mengerahkan tim khusus Bantuan Tanggap Bencana (DART) dan mengalokasikan dana darurat jutaan dolar untuk membantu penanganan bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang Kolombia pada Senin, 10 Agustus 2026.
Guncangan gempa yang berpusat di dekat San Jose del Palmar, wilayah administratif Choco tersebut merusak ribuan bangunan, menewaskan sedikitnya 224 hingga 250 orang, serta melukai lebih dari 800 warga di wilayah Kolombia dan sekitarnya.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan penyediaan bantuan darurat senilai 15,5 juta dolar AS atau sekitar Rp252,6 miliar beberapa jam setelah bencana terjadi. Dana ini ditujukan untuk penyediaan tempat tinggal darurat, bahan makanan, perlindungan korban, serta evaluasi struktur bangunan terdampak.
Selain bantuan langsung, Amerika Serikat mengalokasikan dana kemanusiaan senilai 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,27 triliun melalui Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), yang merupakan bagian dari komitmen total 3,8 miliar dolar AS.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyampaikan penegasan mengenai komitmen bantuan tersebut melalui pernyataan resminya pada Selasa, 11 Agustus 2026.
"Pemerintah Trump telah memobilisasi respons segera setelah gempa dahsyat berkekuatan 7,4 magnitudo melanda sejumlah wilayah Kolombia pada 10 Agustus," kata Departemen Luar Negeri AS dalam suatu pernyataan pada Selasa (11/8).
Berdasarkan analisis pakar, gempa di Kolombia dipicu oleh deformasi internal atau patahan di dalam Lempeng Nazca yang menunjam ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan. Peristiwa ini dikategorikan sebagai gempa intraslab, yaitu gempa yang terjadi di dalam tubuh lempeng yang sedang menunjam.
Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) mencatat Indonesia pernah mengalami peristiwa fenomena tektonik serupa melalui bencana Gempa Padang-Pariaman berkekuatan M7,6 pada 30 September 2009. Bencana yang berpusat di kedalaman 71 kilometer tersebut menghancurkan ribuan bangunan dalam waktu 41 detik serta merenggut 1.117 korban jiwa dan 2.180 korban luka.
Pakar seismologi Daryono memberikan penjelasan mengenai penyebab kuatnya dampak guncangan dari gempa jenis intraslab ini.
"Tampaknya Gempa Padang-Pariaman 2009 masih menjadi gempa intra-slab yang terkuat di dunia, dengan korban jiwa meninggal 1.117 orang dan 2.180 orang terluka," ungkap Daryono, dalam keterangan yang diperoleh CNBC Indonesia, dikutip Rabu (12/8/2026).
Daryono menambahkan faktor batuan padat pada lempeng samudra menjadi salah satu pemicu utama cepatnya perambatan gelombang gempa ke permukaan.
"Dari kacamata seismologi, batuan lempeng samudra yang padat, homogen dan kaku berfungsi sebagai penghantar gelombang seismik yang sangat efisien, membuat gelombang berfrekuensi tinggi merambat ke permukaan tanpa mengalami peredaman (attenuation) yang berarti," kata Daryono.
Bencana di Sumatera Barat pada 2009 lalu juga tergolong kompleks karena disusul oleh gempa berkekuatan M6,6 di wilayah Sungai Penuh pada 1 Oktober 2009.
Daryono memaparkan perbedaan sumber tektonik dari rangkaian gempa yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari 24 jam tersebut.
"Kedua kejadian tersebut terjadi dalam selang waktu kurang dari 24 jam, tetapi memiliki sumber tektonik yang berbeda," kata Daryono.
Ia merinci lebih lanjut perbedaan mekanisme antara kedua titik gempa bumi tersebut.
"Kedua gempa itu bukan sekadar "dua gempa di lokasi relatif berdekatan". Secara tektonik sumbernya berbeda. Gempa Pariaman terjadi pada kedalaman menengah di lingkungan subduksi, sedangkan gempa Sungai Penuh merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan sistem Sesar Sumatra," jelasnya.